Belajar Ikhlas dari Kehilangan

titim-nuraini

Ceritanya kemarin pagi aku nonton pawai (semacam karnaval) di Pesantren tempat aku mondok dulu. Selain menyaksikan iring-iringan pawai di jalan raya, kita juga nonton atraksi drumband dan tong-tong atau ul-daul (music tradisional di Madura) di depan masjid asrama putra. Moment kayak gini biasanya digunakan para alumni untuk berkunjung ke sana. Kebetulan acaranya hari Minggu jadi aku juga bisa nonton. Di sana aku ketemu banyak sekali teman-teman sesama alumni, kebanyakan dari mereka sudah menikah dan menggendong anak. Pawai berakhir sampek siang sekitar jam 12. Pas mau pulang aku ketemu Mbak Tini, temen sekamar dulu yang udah lama gak ketemu. Jadi Adikku aku suruh bareng temenku dulu buat ke pondok putri tempat kita memarkir motor. Sebelum balik adikku minta uang buat jajan. Aku menaruh sisanya kembali di saku rok.

Aku menyusul Adik setelah berpisah dengan Mbak Tini dan teman-teman sekamar lainnya. Waktu mau beli pentol aku mengubek-ubek saku rok sebelah kiri tapi uang yang aku cari kok gak ada. Ah sepertinya tadi terjatuh setelah ngasih uang ke Adik. Saku sebelah kiri memang lebih kecil dari saku sebelah kanan. Isinya juga penuh dengan masker dan kunci motor. Mungkin over quota makanya jatuh. Hmmm Aku pasrah deh uang itu sudah hilang.

Kemarin tuh bukan cuma kehilangan uang tapi juga pulsa. Sorenya aku janjian sama Ikoh mau ngenet ke Telkom. Sebelum berangkat aku sms Ikoh. Tapi malah dapet Collect SMS dari 88222 yang mengabarkan kalo pulsaku tidak cukup sehingga jika si penerima sms bersedia menanggung biaya maka sms akan terkirim. Lah perasaan 2 hari lalu aku baru isi pulsa. Masak ia sudah habis. Setelah aku periksa pulsanya nol. Duh ada yang gak beres nih. Setelah aku inget-inget ternyata quota internetku habis tanggal 21 Mei 2016. Itu artinya tanggal 22 Mei kemarin harusnya aku perpanjangan paket internet. Karena gak diperpanjang pulsanya kepotong buat paket internet regular gitu. Pantesan seharian paket dataku gak bisa-bisa pasti karena pulsanya gak cukup. Ah.

“Ketika kita kehilangan, Sejatinya Allah mengajarkan kita tentang keikhlasan”

Nilainya sih gak terlalu besar. Tapi tetep aja kepikiran. Harusnya kan bisa dipakek buat ini itu. Tapi mau gimana lagi kalau sudah hilang. Dari kejadian kemarin aku belajar untuk bisa ikhlas atas sesuatu yang sudah hilang. Memang sulit tapi di sinilah ujiannya, kita belajar melapangkan dada atas apa yang sudah hilang. Belajar merelakan sesuatu yang terlepas dari kita. Mungkin memang itu bukan rejekiku. Aku hanya berdoa semoga uang tersebut ditemukan oleh orang yang membutuhkan. Semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Dan aku belajar untuk lebih berhati-hati ketika menyimpan uang. Selain itu ini juga menjadi intropeksi diri untuk tidak ceroboh dalam menyikapi sesuatu. Atau mungkin ini cara Allah mengingatkanku agar lebih banyak lagi berbagi supaya rejeki yang kita terima semakin barokah.

2 thoughts on “Belajar Ikhlas dari Kehilangan

Terima kasih sudah komen :)