Allah Memanggilnya di Awal Ramadlan

1 Ramadlan 1434 H/Rabu, 10 Juli 2013 M

                Malam pertama memasuki bulan Ramadlan Allah memanggil orang yang sangat berharga dalam hidupku.  Kesedihan memuncak karena harus kehilangan Emba. Wanita yang telah merawatku sejak kecil. Dia pergi begitu cepat tanpa tanpa kami mampu membaca isyaratnya.

                “Bileh tampaan[1]?” pertanyaan itu yang selalu diucapkannya beberapa hari terakhir. Ia ingin tetap berpuasa meski usianya sudah renta. Secara fisik tak terlalu bermasalah karena tahun sebelumnya ia masih menjalankan puasa satu bulan penuh. Setelah jatuh saat akan shalat Isya’ 4 bulan yang lalu ia hanya bisa di rumah karena tak bisa berjalan. Hari-harinya hanya berkisar antara tempat tidur dan kursi panjang yang ada di dekatnya. Kondisinya udah mulai pulih hanya ia tetap belum bisa berjalan. Tadi pagi sebelum berangkat kerja aku masih memberinya sepiring makanan untuk makan pagi. sama seperti hari-hari biasanya. Tak ada yang berbeda.

                Pulang kerja biasanya ia sangat senang karena aku datang. Dan akan marah kalau aku pulang kemaleman. Aku tahu ia sangat sayang padaku. Tapi kali ini saat memasuki rumah aku mendapati Emba sedang berusaha mencapai kursi tempat biasa ia buang hajat. Aku membantunya karena ia mengeluh sesak di dadanya. Ia terus memintaku untuk memeganginya. Selesai proses buang hajat ibu langsung menggendongnya ke tempat tidur. Setelah dikasih air kelapa kondisinya mulai membaik. Setelah shalat maghrib aku menggantikan Ibu menjaganya.

                “Ko’ tedungngah[2], Tim!” kata itu diucapkannya berulangkali. Aku memijit tangan dan bagian tubuh lainnya yang terasa dingin agar ia bisa tidur dengan nyaman. Awalnya aku berniat gak ikut tarawih malam ini untuk menemani Emba. Aku pikir menjaga Emba juga merupakan pahala yang tidak terbatas. Tapi Ibu menyuruhku tarawih dan dia yang menjaga Emba. Shalat tarawih berjalan dengan lancar. Tapi baru saja aku mengucapkan salam pada shalat witir terakhir. Aku langsung bangun mendengar panggilan panik Ibu. Kudapati tubuh kaku Emba terbaring tak bergerak. Semua berlalu begitu cepat, lantunan Yasin langsung menggema mengiringi kepergian Emba yang telah memenuhi panggilan-Nya. air mata beberapa kali menetes di kitab suci yang kubaca. Aku tak kuasa menahan kesedihan ini. aku belum percaya jika Emba benar-benar pergi. Bagiku semua terlalu cepat.

                22.25. lantunan Yasin menggema mengiringi tanah pekuburan yang perlahan-lahan menutupi jasad Emba. Ku hapus air mata yang menganak sungai di pipiku. Dia benar-benar telah meninggalkanku. Yang aku sesalkan kenapa aku tak mengerti dengan isyarat kecil yang ia berikan. Ia selalu bertanya padaku kapan hari mulai puasa rupanya di malam permulaan ramadlan ini ia meninggalkanku. Ia bilang padaku bahwa ia ingin tidur rupanya ia tidur tuk selamanya. Bukan maksudku mengantarnya dg tangis aku hanya tak bisa membendung kesedihanku atas kepergiannya. pergilah aku akan mencoba untuk ikhlas melepasnya aku akan berusaha mengantarnya dg senyum dan doa agar allah menerangi peristirahatan terakhirnya. Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu ‘anha. Doaku kan senantiasa selalu teriring untuk menemani kepergiannya.


[1] Kapan malam permulaan puasa? Dalam bahasa Madura

[2] Aku mau tidur. Dalam bahasa Madura

Terima kasih sudah komen :)