Drama Kehujanan di Taman Nasional Baluran Bikin Pengen Nangis

taman-nasional-baluran

Hari pertama di Banyuwangi, tempat pertama yang akan kami kunjungi adalah Taman Nasional Baluran. Setelah melalui pagi yang cukup panjang, mengambil motor di homestay dan mengisi bahan bakar aku dan Ila siap memulai petualangan. Di kejauhan terlihat awan gelap menggantung di daerah Baluran, tapi tidak menyurutkan niat yang sudah terpatri. Dalam hati berharap semoga hujan tidak turun.

Kami melajukan kendaraan ke arah utara, melewati jalan yang sangat legendaris di Banyuwangi yakni watu dodol, batu besar setinggi 6 meter yang terletak di tengah ruas jalan. Di sepanjang perjalanan banyak sekali pantai cantik yang memikat hati. Tapi karena masih fokus pada tujuan utama yaitu Baluran, untuk sementara pantai-pantai ini kami skip dulu.

Taman Nasional Baluran terletak di antara wilayah Banyuputih, Situbondo dan Wongsorejo, Banyuwangi. Baik dari Banyuwangi maupun Situbondo membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan.

Hampir aja terlewat, aku melajukan motor lumayan kencang sehinggga tidak melihat gerbang Taman Nasional Baluran di kanan jalan. Untung pintu masuk Taman Nasional Baluran ada 2 sehingga gak usah putar balik, bisa langsung masuk melalui gerbang bagian utara.

Sekilas aku melihat sebuah tempat bertuliskan Goa Jepang, kami melewatinya untuk mengikuti petunjuk arah menuju tempat pembelian tiket. Ada beberapa motor terparkir di depan sebuah gedung, insting aja ternyata benar itu tempat pembelian tiketnya. Tak ada loket, hanya ada meja kayu dan beberapa petugas yang mengurus pertiketan ini.

taman-nasional-baluran
Tempat pembelian tiket

Harga tiket masuk ke Taman Nasional Baluran untuk hari libur Rp. 17.500 + asuransi Rp 1.000 per orang dan Rp. 7.500 per motor.

Taman Nasional Baluran mendapat julukan Africa van Java, ada juga yang menyebutnya The Little Africa karena memiliki pesona alam yang mirip dengan padang savana di Africa. Taman Nasional Baluran merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli dengan banyak satwa liar seperti gajah, rusa, kerbau, dll.

Aku pikir bakalan melewati jalan rusak seperti yang aku baca di blog para blogger yang udah pernah ke sini. Ternyata surprise…. jalan mulus tanpa cela terbentang, sepertinya baru diaspal. Tak ada kendala berarti menuju Savana Bekol yang masih 12 KM lagi. Pertama melajukan motor tanpak sepi, jalan membelah hutan, di kiri kanan pohon-pohon besar dan hanya beberapa kendaraan yang berpapasan dan menyalip. Pengennya berhenti untuk berfoto karena viewnya cantik banget. Mengingat langit mendung, kami khawatir kehujanan sebelum nyampek di tujuan utama jadi skip dulu.

taman-nasional-baluran
Dijepret oleh Ila

Spot Foto Iconic di Savana Bekol

Lepas dari area hutan, savana yang luas menyambut, terlihat masih gersang meski sudah masuk bulan Desember. Kami berhenti saat melihat sekumpulan orang-orang yang sedang berfoto di salah satu spot iconic Baluran bertuliskan Welcome to Bekol Savana. Untuk berfoto di spot ini harus bersabar karena banyak sekali pengunjung di musim libur akhir tahun. Di area ini sudah mulai banyak monyet berkeliaran, harus hati-hati dengan barang bawaan.

 

taman-nasional-baluran
Susah dapet foto yang bersih

Selanjutnya kami sampai di sebuah tempat yang terdapat beberapa bangunan dan dimintai tiket masuk. Ternyata penjaganya fasih Bahasa Madura. Tersedia toilet dan mushola serta beberapa penginapan.

Di sinilah spot foto iconic yang kedua berada berupa display kepala rusa, banteng, dan lainnya. Daya tarik Taman Nasional Baluran adalah savana yang luas dengan background Gunung Baluran yang menjulang tinggi. Seperti halnya di spot iconic pertama susah banget dapat foto yang bersih, selalu bocor karena banyaknya pengunjung. Jadi kami pasrah aja mendapat foto seadanya. Pupus sudah harapan buat foto di pohon khas Baluran ala video klipnya Raisa, hiks.

taman-nasional-baluran

taman-nasional-baluran

taman-nasional-baluran
Di sini tersedia toilet dan mushola

Langit gelap menutupi sebagian Gunung Baluran. Hujan tiba-tiba turun. Kami berlari ke sebuah penginapan yang sedang kosong, berteduh di terasnya yang terdapat 2 kursi kayu. Sambil menunggu hujan reda kami makan roti dan cemilan. Beberapa ekor monyet mendekat, aku kaget dan sudah mengambil ancang-angcang untuk berlari.

“Jangan panik,” ucap Ila.

Aku pun kembali duduk tenang dan melempar mereka dengan makanan. Aku harap mereka mengambil dan pergi. Seekor kera yang lumayan besar juga mendekat terlihat lebih sangar meminta jatah. Segera aku melemparinya makanan dan bersiap untuk lari sebelum kawanannya yang lain menyerbu, Ila ternyata udah gak ada di sebelah. Aku mengejar dan mengumpatnya. Bukannya marah aku malah ketawa, Ila juga tertawa. Jelas-jelas dia yang bilang jangan panik eh malah dia kabur duluan.

Spot terakhir yang gak boleh terlewat. Tidak jauh berbeda dari spot pertama berupa tulisan “Taman Nasional Baluran Savana Bekol” terukir pada kayu tipis yang tergantung diantara pohon besar yan tidak terlalu tinggi. Di depannya ada kayu serupa yang bisa dipakai buat tempat duduk saat berfoto. Padang savana dengan tanah hitam terlihat lebih luas. Seandainya awan hitam tidak menggantung, Gunung Baluran pasti terlihat lebih jelas. Lagi-lagi harus antre kalau mau mengambil gambar.

taman-nasional-baluran

taman-nasional-baluran
Gunungnya tertutup awan

Pantai Bama Ramai Banget saat Liburan Akhir Tahun

Tujuan berikutnya adalah Pantai Bama yang berjarak sekitar 3 KM. Di perjalanan kami melihat kerbau yang sedang menggembalakan diri di tengah savana yang gersang. Jalanan menuju Pantai Bama tidak semulus di areal hutan tadi tapi masih sangat layak untuk dilewati. Antrean mobil cukup panjang di pintu masuk Pantai Bama. Kami membayar parkir Rp. 2.000.

Huwa…. Pantai Bama rame banget, parkir motornya penuh. Banyak sekelompok keluarga yang menggelar tikar dan berpiknik ria. Pantai yang tersembunyi ini menjelma menjadi tempat wisata keluarga pada musim liburan akhir tahun.

taman-nasional-baluran
Pantai Bama rame banget

taman-nasional-baluran

Tak banyak yang bisa aku ceritakan karena gak bisa menikmati pantai ini. Pantainya biasa aja, garis pantai yang cukup panjang dengan ombak yang tenang. Kera di sini lebih banyak, banyak yang menggendong anaknya di bagian depan terlihat menggemaskan. Tapi kayaknya kera di sini lebih ganas, ada makanan pengunjung yang dibawa lari sama kera-kera ini.

Beralih ke Dermaga Mangrove, masih satu kawasan dengan Pantai Bama. Pertama kali masuk nuansanya kayak Hutan Kera Nepa di Sampang. Di sini juga nothing special, kita menyusuri jalur tracking terbuat dari beton di tengah hutan mangrove menuju dermaga. Di ujung dermaga terdapat bangunan kecil bisa jadi spot foto. Tapi udah gak mood karena terlalu ramai. Kami hanya melihat-lihat ikan kecil berenang di air yang jernih abis itu balik.

Drama Kehujanan di Taman Nasional Baluran

Di tengah perjalanan hujan kembali mengguyur, kali ini lebih deras dari yang tadi. Gak bawa jas hujan dan tak ada tempat berteduh. Hujan semakin deras, Ila membelokkan motor untuk berteduh di bawah pohon yang berada agak jauh dari jalan aspal. Lumayan lah sedikit terlindungi meski tetep basah. Hujan sedikit mereda kami berniat untuk melanjutkan perjalanan pulang.

Drama pun terjadi, tanah yang baru terkena hujan menjadi lengket saat dilewati ban motor. Pas mau naik ke jalan motor kami terjebak di pinggiran jalan beraspal karena posisi jalan yang lebih tinggi. Sudah bergantian ngegas dan mendorong dari belakang tapi tak ada hasil hingga hujan turun lagi. Udah pengen nangis. Untungnya ada sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti. Sopirnya turun dan membantu kami yang sedang kesulitan. Si Bapak membantu mengangkat bagian belakang motor dan ila yang ngegas. Alhamdulillah motor pun berhasil menjejak jalan beraspal. Kami pun mengucap banyak terima kasih kepada si Bapak yang kemudian berlari kembali ke mobilnya karena hujan masih cukup deras.

Tak selesai sampai di situ, kami lihat bagian antara ban dan sayap belakang dipenuhi gumpalan tanah. Di tengah derasnya hujan kami mencoba membersihkannya dengan kayu. Tanahnya banyak banget lagi, susah pula, baju sampek kotor dan basah kuyup. Pada detik ini aku beneran pengen nangis. Tapi menangis saja tak akan merubah apapun. Kami harus segera menyelesaikannya supaya bisa cepat pulang.

taman-nasional-baluran

Alhamdulillahnya motor yang kami kendarai strong banget dan gak rewel. Kami melanjutkan pulang menembus hujan. Sampai di area hutan hanya tinggal gerimis dan mereda ketika kami sampai di rest area dekat tempat pembelian tiket tadi.

Rencananya kita masih mau ke Waduk Bajul Mati setelah dari Taman Nasional Baluran. Tapi kondisi pakaian basah sehabis kehujan membuat kami terpaksa mengurungkannya. Kita memilih pulang, pengen cepet sampai penginapan dan istirahat.

Drama belum usai. Dalam perjalanan pulang menuju penginapan hujan kembali turun dengan deras. Sialnya kami mencari tempat berteduh tapi tak menemukan tempat yang pas. Mau tidak mau kami terus berkendara menembus hujan yang deras sepanjang perjalanan dari Baluran. Sampai di Banyuwangi Kota ternyata tidak ada tanda-tanda adanya hujan, hmmm.

Sampai di penginapan kita mandi dan mencuci pakaian kemudian beristirahat. Perjalanan kali ini sangat melelahkan dan tidak terlupakan. Jujur drama kehujanan tadi membuatku jadi down. Tidak semua yang kita rencanakan berjalan sesuai harapan. Setelah beristirahat sejenak dan mood mulai membaik kami menyusun kembali rencana untuk mengeksplore Banyuwangi Kota untuk menghabiskan waktu yang tersisa di hari pertama.

Dari beberapa kesulitan yang kami hadapi saat traveling, masih lebih banyak kebaikan-kebaikan yang kami temui yang membuat kami terus besyukur. Dan sesulit apapun perjalanan tidak pernah membuat kami jera untuk terus jalan-jalan.

Terima kasih sudah komen :)