Eksplore Keindahan Alam Kediri Day 1: Naik Ojek ke Gunung Kelud

gunung-kelud

Aku sempat tergoda dengan ajakan teman yang akan pergi ke Bali pada 9 November 2019. Tapi setelah dipikir lagi sepertinya persiapan ke Bali hanya dalam 10 hari itu kurang maksimal. Aku juga belum dapat jatah cuti karena belum nyampek setahun masa kerja. Ke Bali kan gak cukup hanya sehari 2 hari. Belum lagi urusan budget.

Akhirnya aku sama Ila memutuskan untuk pergi ke Kediri saja. Kami pengennya ngebolang kayak di Banyuwangi tahun lalu. Langsung deh menyusun itinerary, booking penginapan di pegi-pegi.com, dan sewa motor seminggu sebelum hari H.

pamekasan

Jum’at, 08 November 2019

Perjalanan ke Kediri kali ini kami berempat, aku, Ila, Rajho dan Mbak Sinta. Awalnya mereka gak bisa ikut, baru di detik-detik hari keberangkatan memutuskan untuk gabung. Kami berkumpul di pertigaan dekat rumahnya Ila, di depan Alfamart pukul 22.00. Menunggu cukup lama, bus menuju Surabaya akhirnya datang. Perjalanan malam terasa lebih cepat, pukul 01.15 kami sudah tiba di Terminal Purabaya, Surabaya. Perkiraan sebelum matahari terbit sudah sampai di Kediri.

Tengah Malam Terdampar di Terminal Purabaya

Namanya perjalanan harus menyiapkan diri jika ada yang tidak sesuai rencana. Karena arus liburan yang padat jadwal bus ke beberapa kota menjadi tidak beraturan. Tengah malam kami terdampar di Terminal Purabaya menunggu bus sampai subuh. Sangat melelahkan dan mengantuk. Baru sehabis subuh bus menuju Kediri mulai berdatangan, tapi belum nyampek peron aja udah penuh.

terminal-purabaya

terminal-purabaya

Kami harus mengejar dan berebut dengan penumpang lain setiap kali bus Harapan Jaya masuk di pintu kedatangan. Perjuangan yang tidak sia-sia, bus yang kami naiki penuh tapi alhamdulillah semua dapat tempat duduk meski harus terpisah. Hari semakin terang, penumpang bus naik dan turun di perjalanan tanpa henti. Berkali-kali aku tertidur dan terbangun karena kegerahan dan tersenggol penumpang yang berdiri. AC bus ekonomi yang tidak seberapa sama sekali tak terasa dinginnya.

Sewa Motor di Kediri

Sabtu, 09 November 2019

Perjalanan dari Surabaya ke Kediri memakan waktu sekitar 3,5 jam. Hal pertama yang kami lakukan sesampainya di Terminal Tamanan Kediri adalah mencari masjid terdekat yang jaraknya sekitar 0,5 KM dengan berjalan kaki. Setelah mandi sekadarnya dan ganti pakaian, kami memesan grab car menuju tempat persewaan motor yang udah kami pesan sebelumnya.

Sewa Motor Candra namanya, berada di area perumahan baru Griya Lirboyo Harmony. Harga sewa motor per hari 75.000, kami menyewa 2 motor untuk 2 hari. Syaratnya gak ribet, cuma menyerahkan 2 kartu identitas dan mengisi form. Pemiliknya ramah dan alhmadulillah dapet motor matic yang bagus. Kami siap memulai petualangan, tapi sebelum itu ke kos temennya Rajho untuk menitip barang bawaan.

Naik Ojek Ke Kawah Gunung Kelud

gunung-kelud

Berbekal google map kami melajukan motor menuju Gunung Kelud, melewati perbaikan dan pelebaran jalan. Tidak sulit, pukul setengah 12 kami tiba di gerbang pembelian tiket dan membayar 23.000 untuk 2 orang dan 1 motor. Kami melanjutkan perjalanan sekitar 15 menit melalui jalanan yang mulus tapi berkelok. Udara udah mulai terasa sejuk. Sampai di parkiran motor kami tidak langsung naik, foto-foto dulu dan mengagumi gunung-gunung yang mengelilingi.

gunung-kelud
Tempat pembelian tiket

gunung-kelud

gunung-kelud

gunung-kelud

Rajho mengajak jalan kaki sampai puncak, kami mengikuti saja. Cuaca yang sangat terik dan jalanan yang menanjak membuat kami cepat lelah. Belum jalan seberapa jauh Mbak Sinta udah minta istirahat, aku dan Ila juga mulai ngos-ngosan. Istirahat sebentar, dengan saling menyemangati kami kembali berjalan sedikit lalu meminta jatah istirahat lagi.

Awalnya kami ragu ketika ditawari naik ojek sampai ke puncak. Niat hati ingin terus berjuang sampai akhir tapi apalah daya kondisi fisik yang gak pernah olahraga ini udah gak bisa diajak berperang, haha. Adalah pilihan yang tepat kami menerima tawaran ojek untuk melanjutkan perjalanan seharga 30.000. Karena, ternyata perjalanan yang hasrus kami tempuh masih sangat jauh.

Akses jalanan menuju kawah sudah lebar dan dicor. Meski begitu hanya para ojek terlatih yang bisa melewati jalanan  berliku tajam di sini. Kendaraan pribadi baik mobil maupun motor harus parkir di bawah. Sambil mengobrol dengan bapak ojek aku menikmati pemandangan alam pegunungan yang sangat cantik. Dalam hati terus berdoa apalagi ketika sampai di jalan tanah yang berkerikil. Kami melewati terowongan yang gelap dan berakhir di dekat danau kawah.

gunung-kelud

gunung-kelud

gunung-kelud

gunung-kelud

Dulunya terdapat Anak Gunung Kelud berupa kubah lava sebelum meletus pada Februari 2014. Saat ini hanya tersisa danau kawah berwarna kecoklatan yang dikelilingi Puncak Kelud, Sumbing, dan Gajah Mungkur. Terdapat properti artificial bertuliskan Kawah Gunung Kelud yang menjadi pemanis saat berfoto. Di sebelah kanan Puncak Sumbing berdiri dengan gagahnya. Tebing batu andesit ini berwarna abu-abu gelap berbentuk mengerucut dengan puncaknya yang meruncing.

Karena baru berbenah setelah letusan di tahun 2014, belum banyak fasilitas yang tersedia di sini. Penjual minuman dan souvenir aja berjualan hanya menggunakan payung besar sebagai tempat bernaung. Di dekat Puncak Sumbing terdapat spot buatan dan juga jasa foto untuk mendapatkan hasil foto professional.

gunung-kelud

gunung-kelud

gunung-kelud

gunung-kelud gunung-kelud

Langit mulai mendung, kami memutuskan untuk balik sebelum hujan benar-benar turun. Ojek di sini sudah dikordinir dengan baik. Tarif ojek yang kami bayar sudah termasuk ongkos pulang pergi. Saat naik tadi kami dikasih kertas yang bisa kita gunakan untuk naik ojek ketika akan balik ke bawah. Tinggal menyerahkan kertas tersebut, para abang ojek yang sedang parkir akan dengan sigap mengantar sampai ke tempat parkir. Rasanya masih berat untuk pulang, masih sayang untuk meninggalkan tempat secantik ini. Belum pulang aja udah kangen sama tempat ini, hehe.

Sampai di tempat parkir, kami tidak melihat motor Rajho dan Mbak Sinta yang diparkir berdekatan dengan motorku dan Ila. Kami panik tapi menocoba positive thingking, mungkin dipindah oleh tukang parkirnya. Rajho dan Mbak Sinta mencari agak ke bawah. Nah, pas dilihat ternyata aku dan Ila salah motor, abisnya motor dan helmnya sama banget. Giliran kami yang panik menyusul Rajho dan Mbak Sinta. Benar saja, motor kami masih terparkir berdekatan, haha. Udah deg-degan kalau motornya hilang harus ganti, motor sewaan gaes.

gunung-kelud

Di perjalalan kami penasaran dengan nanas seharga 500 rupiah yang dijual di pinggir jalan. Ternyata nanasnya kecil banget, tidak sampai sekepalan tangan. Mau beli tapi susah ngupasnya nanti, gak punya pisau juga kan. Jadi kami beli yang udah dikupas dan dipotong, harganya 4.000 per plastik. Rasanya, rasa nanas, hehe.

Main ke Kampoeng Indian

Deretan warung tak jauh dari Kampoeng Anggrek menjadi pilihan untuk mengisi perut. Sayangnya kami salah pilih, hanya ada beberapa warung yang buka dengan menu yang terbatas. Penyajiannya sangat lama sampai cacing di perut meronta-ronta. Sambil menunggu kami memperhatikan Kampoeng Anggrek yang sepi terlihat dari luar, padahal masih sekitar pukul 2 siang.

Mulanya kami ingin ke Kampoeng Anggrek dan Kampoeng Indian yang letaknya berdekatan. Tapi sepertinya waktu tidak cukup, jadi kami memilih ke Kampoeng Indian saja setelah makan.

Tiket masuk Kampoeng Indian 10.000 dan parkir 3.000. Tempatnya bertema Indian namun tidak terlalu luas. Saat kami sampai sedang diputar lagu yang keras dengan tarian ala indian yang juga diikuti para pengunjung, seru liatnya. Di sini kami menyewa pakaian Suku Indian berupa topi dengan harga mulai dari 5.000 sampai 25.000 dan berfoto di rumah-rumah khas Suku Indian. Tak lama, setelah shalat di mushola di bagian belakang kami segera pulang.

Kediri di Malam Hari

Malemnya kami chek in di Tristar Hotel. Karena pesennya cuma 1 kamar, jadi tambah ekstra bed untuk Mbak Sinta, nambah biayanya 65.000. Oh ya, sewa kamar di Tristar hotel per malamnya 152.000 tanpa AC. Fasilitas yang ada di kamar berupa 2 single bed, meja, kursi, TV, kipas angin gantung, air mineral, dan kamar mandi dalam.

Setelah mandi dan istirahat sebentar kami makan di Mie Pellow yang ternyata kurang recommended. Untuk rasa biasa aja dan pelayanannya kurang ramah.

kediri

kediri

Tujuan terakhir kami malam ini adalah Taman Brantas. Kami bersantai di dekat BMX Arena yang sangat ramai. Aku melihat banyak sekali orang tua sedang menemani anaknya bermain sepeda, skate board dan sepatu roda. Seneng lihatnya, ada ruang terbuka yang bisa digunakan masyarakat untuk mengisi waktu dengan keluarga seperti ini. Ada juga sekumpulan anak muda yang bermain bola. Menariknya lagi lokasinya berada di pinggir Sungai Brantas dan di bawah Jembatan Brawijaya.

kediri

kediri

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, ternyata sudah pukul 22.00. Kami balik ke penginapam untuk istirahat karena esok masih akan melanjutkan perjalanan mengeksplore keindahan alam Kediri. Si Rajho masih melanjutkan ngopi dan tidur di tempat temennya.

Bersambung…

4 thoughts on “Eksplore Keindahan Alam Kediri Day 1: Naik Ojek ke Gunung Kelud

  1. Aduh mbak, mupeng lihat ini. Akhir tahun lalu aku ke rumah bulik di Wates, Kediri. Pengen banget ke Kelud. Sayang waktu nggak mencukupi. Waktu itu bareng dengan keluarga besar. Cuaca juga sedang nggak bagus. Cuma sampai kampung Korea dan hujan. Btw, nanas Kelud enak, manis, meski mini.

Leave a Reply to Titim Nuraini Cancel reply