Eksplore Keindahan Alam Kediri Day 2 : Seribu Anak Tangga Menuju Air Terjun Dolo

kediri

Minggu, 10 November 2019

Selamat pagi Kediri!!!

Pagi-pagi sekali abis shalat subuh aku, Mbak Sinta, dan Ila sudah berdandan cantik untuk mulai mengeksplore keindahan alam Kediri di hari kedua. Tapi si Rajho gak bisa dihubungi, pesan wathsapp centang satu, telfon WA hanya memanggil, dan telfon biasa gak diangkat. Kemana perginya nih anak.

“Aku sudah di bawah.” yang dicari-cari akhirnya muncul di grup pukul 05.04.

Kami segera turun dari kamar di lantai 2 menemui Rajho yang masih bermuka bantal. Langsung deh kita berangkat, tapi sebelumnya isi bensin sambil nungguin Rajho yang ke kamar mandi, entah dia mandi atau cuma cuci muka.

Foto-foto di Simpang Lima Gumul

simpang-lima-gumul

Tujuan pertama pagi ini adalah Simpang Lima Gumul, sekitar 7,3 KM ke arah timur laut dari Kediri Kota tepatnya di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem. Kami sengaja ke Simpang Lima Gumul lebih pagi, supaya tidak terlalu ramai dan dapat foto yang tidak terlalu bocor.

Setelah memarkir motor kami berjalan mendekat pada bangunan setinggi 25 meter yang mirip dengan Arc de Triomphe di Paris. Niatnya emang mau foto-foto di bangunan iconic Kediri ini, aku seneng akhirnya bisa kesampaian. Awalnya kami foto-foto di bagian barat yang ada tulisan “Kediri Lagi” tapi hasilnya kurang bagus, agak silau gitu karena mataharinya dari arah timur.

simpang-lima-gumul

simpang-lima-gumul

simpang-lima-gumul

Kami semakin mendekat melihat sekilas relief yang menggambarkan sejarah Kediri dan kebudayaannya. Terakhir kami ke sisi timur untuk mencoba berfoto dari sisi yang berbeda.  Hasilnya memang lebih bagus, dari sini angelnya lebih cantik dan hasilnya lebih terang.  Bangunan Simpang Lima Gumul terlihat gagah berpadu dengan latar langit biru yang cerah dan deretan pohon kelapa sawit tampak memagari.

Sarapan Pecel Tumpang di Car Free Day

Berhubung ini hari Minggu, kebetulan banget bisa kulineran di car free day dekat Simpang Lima Gumul. Orang-orang tumpah ruah di sini, banyak yang baru selesai olahraga, banyak juga yang sekedar kulineran bareng keluarga. Yang suka makan pasti seneng ada di sini, tinggal pilih mau makan apa. Aku sendiri nyari stand penjual pecel tumpang, makanan khas Kediri. Tak butuh waktu lama, sepincuk pecel tumpang sudah di tangan. menunya sangat sederhana, nasi putih dan sayur rebus disiram bumbu pecel ditemani sepotong tahu goreng. Tak ketinggalan teman setianya rempeyek yang renyah banget.

 kediri

pecer-tumpang

Kami makan lesehan di atas tikar yang digelar si penjual. Yang membedakan pecel tumpang dengan pecel lainnya adalah bumbu pecel udah dicampur dengan sambel tumpang (tempe bosok yang sudah dihaluskan). Tapi menurutku rasanya gak begitu beda dengan pecel lainnya, rasa tempe bosoknya gak terlalu kerasa. Harganya sangat murah, seporsi pecel tumpang seharga 5.000 udah bisa bikin perut penuh.

 Hari semakin siang, kami balik ke penginapan, beres-beres dan chek out. Perjalanan kami belum berakhir di sini, malah kita baru akan memulai petualangan selanjutnya. Biar gak ribet bawa-bawa barang, kami menitipkannya di penginapan.

Seribu Anak Tangga Menuju Air Terjun Dolo

air-terjun-dolo

Jika kemarin kami mengeksplore keindahan alam Kediri ke Gunung Kelud, hari ini kami menuju arah barat daya ke lereng Gunung Wilis. Di hari kedua ini tujuan utamanya adalah Air Terjun Dolo. Perjalanan menuju Air Terjun Dolo sangat menyenangkan karena dimanjakan dengan pemandangan alam yang sangat cantik. Terutama ketika sampai di sisi kanan tebing yang ditumbuhi hutan pinus dan sisi kiri pemandangan dari ketinggian memanjakan mata. Berada di sini membuat hati dan pikiran jadi fresh. Jika mau bersantai di sepanjang jalan ini banyak warung maupun cafe untuk bersantai sambil menikmati pemandangan.

kediri

kediri

Air Terjun Dolo terletak di Dusun Besuki Desa Jugo Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri. Sampai di gerbang Kawasan Wisata Besuki kami membayar tiket 8.000 per orang. Dari sini perjalanan masi lumayan jauh melewati jalan berkelok hingga penghujung jalan. Sampailah kami di parkiran yang sangat luas, di sebelah barat terdapat mushola dan tempat bermain anak. Di bagian timur berderet warung penjual makanan. Nuansanya sejuk dikelilingi pepohonan, bikin hati adem.

Untuk sampai ke air terjun masih harus melalui banyak sekali anak tangga. Pertama kali jalan masih bersemangat, udah menuruni banyak sekali anak tangga tapi belum nyampek juga. Suara gemuruh air mulai terdengar, tapi bukan berarti air terjun udah dekat. Kami masih harus jalan dan jalan lagi meski kaki udah lelah. Pemandangan pohon-pohon hijau lumayan mengobati rasa lelah. Kami tak bisa memperkirakan berapa ratus anak tangga lagi yang harus dilalui karena air terjunnya sama sekali tidak terlihat hingga benar-benar tiba di dasarnya.

air-terjun-dolo

air-terjun-dolo

Begitu sampai kami langsung beristirahat di bawah pohon dekat air terjun karena kelelahan. Air Terjun Dolo sangat tinggi mencapai 125 meter. Aliran airnya tidak terlalu banyak sehingga terlihat merambati tebing. Selepas lelah kami melepas sepatu merasai dinginnya air yang tertampung membentuk kolam alami yang tidak terlalu luas. Kami hanya foto-foto di sebuah batu cukup besar tak jauh dari jatuhnya air.

Air yang tertampung tadi masih mengalir lagi membentuk air terjun yang lebih kecil. Kami turun lagi lebih ke bawah, terlihat 2 air terjun yang saling menyusul. Cantik sekali. Aku tidak melihat ada toilet di sini, bakalan susah kalau kebelet pipis nih, untungnya gak. Pun warung-warung yang ada semuanya tutup, padahal ini hari Minggu.

air-terjun-dolo

air-terjun-dolo

air-terjun-dolo

Perjalanan pulang dari Air Terjun Dolo jauh lebih berat, harus menaiki hampir seribu anak tangga. Mungkin gak nyampek seribu sih, tapi karena saking banyaknya aku menyebutnya begitu. Membayangkannya saja sudah bikin perut mual. Tapi untuk bisa sampai di atas gak bisa hanya dibayangin dong, butuh perjuangan lebih nih.

Anak tanngganya berasa nanjak banget, naik beberapa anak tangga aja udah bikin ngos-ngosan. Kami jalan pelan-pelan aja, kalau udah capek berhenti, tidak memaksakan. Pegangan dari besi di sepanjang anak tangga cukup membantu sebagai tumpuan saat capek perlahan menyerang.

air-terjun-dolo

Aku hampir saja kehabisan air minum di perjalanan, dari bawah banyak warung tapi tutup. Jadi pas nemu warung pertama yang buka aku langsung beli minum. Sayangnya air mineral sudah habis, tinggal teh, mau gimana lagi. Penting banget nih jangan sampai kehabisan perbekalan air saat ke sini.

Akhirnya setelah 1 jam, perjuangan kami berakhir di parkiran. Kami mencari toilet dan beristirahat, capek banget. Sebelum pulang kami foto-foto di depan tulisan Air Terjun Dolo yang berwarna-warni.

air-terjun-dolo

Sejenak di Air Terjun Irenggolo

Dalam perjalanan menuju Air Terjun Dolo tadi kami sempat berhenti di depan gerbang Air Terjun Irenggolo. Hasil rundingan memutuskan untuk ke Air Terjun Dolo terlebih dahulu sebagai tujuan utama. Baru deh pulangnya bisa mampir. Aku sama Ila tertinggal di belakang karena nyetirku kayak siput, hehe. Kami naik motor sambil bernyanyi-nyanyi, terbuai pemandangan alam yang sangat memanjakan. Mbak Sinta dan Rajho sudah terlebih dahulu sampai dan menunggu di depan gerbang, aku hampir saja terlewat, untung saja mereka meneriaki.

Kami ragu, takutnya akses jalannya sama kayak ke Air Terjun Dolo, udah capek gaes. Tapi setelah bertanya pada orang sekitar ternyata medannya tidak terlalu sulit, hanya melewati jalan setapak yang landai dan sesekali menurun. Sukurlah ini tidak ada apa-apanya dibanding medan menuju Air Terjun Dolo.

air-terjun-irenggolo

Air Terjun Irenggolo terlihat seperti air terjun buatan. Air yang jernih mengaliri bebatuan berbentuk undakan dengan tinggi mencapai 80 meter. Berada di dekat air terjun terasa lebih sejuk. Sayang air yang tertampung di kolam alami terlihat keruh karena bagian dasarnya tanah bukan batu. Fasilitas di sini juga kurang memadai. Hanya sebentar, kami langsung balik setelah foto-foto karena perut udah lapar dan capek. Waktunya pulang.

air-terjun-irenggolo

air-terjun-irenggolo

Rasanya gak pernah bosan berada di lereng Gunung Wilis ini, nuansanya bikin hati adem. Di perjalanan pulang kami melewati hutan pinus yang disulap menjadi café. Terlihat sangat instagramable, kursi dan meja tertata di tengah pohon pinus dan ada beberapa spot foto. Pengunjungnya juga banyak, didominasi kaum milenial. Ingin sekali mampir tapi waktu gak cukup dan langit mulai gelap pertanda akan hujan.

Nyobain Nasi Goreng Tiwul

Hujan mulai turun, kami tetap melajukan motor hingga tiba di rest area Desa Pohsarang Kec. Semen Kab. Kediri. Sukurlah hujan turun sangat deras ketika kami memasuki deretan warung dan memesan makanan. Aku penasaran dengan nasi goreng tiwul yang menjadi makanan khas gunung Wilis ini, sementara yang lain memesan menu yang berbeda. Tiwul sendiri merupakan singkong yang dikeringkan lalu digiling dan diolah seperti nasi. Kemudian diolah lagi menjadi nasi goreng pedas seperti yang aku pesan. Hmm, hujan-hujan makan nasi goreng enak nih.

kediri

nasi-goreng-tiwul

Rata-rata makanan di Kediri bercita rasa pedas, dari kemarin pesan makanan selalu pedas. Bagiku yang baru pertama makan nasi tiwul rasanya kurang cocok dengan lidahku. Mungkin karena belum terbiasa dengan rasanya. Harganya 12.000 seporsi.

Btw ini hujan pertamaku di tahun 2019, di Madura belum pernah hujan sama sekali meski udah memasuki bulan November. Hujan udah reda saat kami selesai makan, kami shalat di masjid persis di seberang rest area ini.

Mampir ke Gua Maria Lourdes Puhsarang

kediri

Gua Maria Lourdes Puhsarang berada di komplek Gereja Puhsarang. Setelah memarkir motor kami masih harus berjalan agak jauh melewati perumahan penduduk dan deretan penjual souvenir. Kami tidak lama, sepertinya sedang ada acara, kami hanya melihat patung Bunda Maria dari jauh, abis itu pulang.

Beli Oleh-oleh Khas Kediri

kediri

Hari sudah sore, kami mampir ke penginapan untuk mengambil barang yang dititipkan tadi pagi. Sebelum pulang kami masih mencari oleh-oleh khas kediri di Toko 99. Tokonya kecil berada di gang perumahan gitu, agak sulit menemukannya. Tokonya kecil tapi banyak pembeli yang datang dan pergi membeli oleh-oleh di sini.

Selain menjual camilan khas Kediri di sini juga menjual tahu kuning yang dibuat sendiri. Tempat pembuatannya ada di belakang rumah. Kami membeli tahu kuning, getuk pisang, dan stik tahu untuk dibawa pulang.

Ngemper di dalam Bus

kediri

kediri

Setelah belanja oleh-oleh kami mengembalikan motor sewaan kemudian naik grabcar menuju Terminal Tamanan. Bus yang datang semuanya penuh, kami sudah membiarkan 2 bus berangkat untuk menunggu bus yang lebih longgar penumpangnya. Tapi hari sudah gelap, kami ingin segera pulang. Begitu bus patas ketiga datang kami langsung naik meski udah penuh. Mau gak mau harus berdiri, padahal pengennya bisa istirahat di bus.

kediri

Aku mencoba menguatkan kaki bersandar pada kursi bus. Sepertinya kami akan terus berdiri sampai Surabaya. Aku melihat Ila dan Mbak Sinta sudah duduk dintara kursi-kursi bus. Tak bertahan lama aku pun mengikuti mereka jejak mereka sementara Rajho masih bertahan berdiri. Malu sebenarnya tapi kaki udah pegel dan capek. Kami cuek aja, mencoba memejamkan mata dan tertidur karena kelelahan. Untungnya tak ada penumpang yang naik turun jadi kami aman, bahkan bisa tidur sambil selonjoran di bus, haha. Suatu saat aku pasti tertawa jika mengingat cerita perjalanan ini.

The end.

Terima kasih sudah komen :)