Eksplore Keindahan Pulau dan Menginap di Gili Raja

gili-raja

Setengah hari sudah kita habiskan dengan main-main air di Gili Pandan dan Gili Bidadari. Berat sih ninggalin 2 pulau yang airnya bening kebangetan, apalah daya hari semakin siang. Kita lanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya sekaligus pulau terakhir yang akan kita kunjungi yaitu Gili Raja. Ada banyak sekali keramba apung rumput laut begitu memasuki kawasan perairan Gili Raja. Keramba ini berkelompok-kelompok seperti membentuk jalan buat kapal maupun perahu yang lewat.

Air sedang surut, kapal yang kita tumpangi terpaksa bersandar agak di tengah. Mau tidak mau kita harus turun dari kapal di sambut air laut yang masih setinggi pinggang. Untungnya sih tadi udah basah-basahan jadi gak masalah meski pakaian harus basah lagi. Yang agak bermasalah daratan masih jauh. Kita harus berjalan kaki membelah air laut dengan penuh perjuangan. Belum lagi dasar lautnya banyak batu karang membuat kita harus ekstra hati-hati mencari pijakan.

Sampai di darat Pak Kurdi yang tadi berjalan lebih dulu datang dengan 2 motor. Bergantian kita dibonceng menuju rumah kerabat Pak Kurdi. Badan rasanya udah lengket semua, saatnya bersih-bersih diri. Setelah shalat kita beristirahat sebentar melepas lelah.

Capek sih, tapi pas diajak keliling-keliling lagi gak nolak. Selepas ashar kita bertujuh ditemani Pak Kurdi jalan-jalan sore ke beberapa tempat di Gili Raja. Kita sangat beruntung diajakin keliling pulau sama Pak Kurdi yang orang asli Gili Raja yang secara otomatis jadi tour guide dalam perjalanan ini.

Seru sekali motoran rame-rame menyusuri jalanan yang rindang karena banyak pohon di kiri kanan jalan. Jalanan di sini tidak terlalu lebar dan juga tidak terlalu mulus. Meski begitu medannya gak terlalu sulit kok, masih sangat terjangkau.

Pantai Bringin

Spot pertama yang kita kunjungi adalah Pantai Bringin di Desa Banmaleng Kec. Giligenting Kab. Sumenep. Pantai ini terletak di ujung barat Gili Raja. Kenapa namanya Pantai Bringin? Karena tak jauh dari pantai ada sebuah pohon bringin besar. Dan di bawanya ada sebuah sumur legendaris yang tidak pernah kering meski terjadi kemarau panjang. Sebelum ke pantai kita terlebih dahulu melewati sumur ini. Penampakannya sih tak ada beda dengan sumur-sumur pada umumnya di Madura, berbentuk lingkaran dengan diameter yang tidak terlalu besar. Airnya dangkal dengan hiasan beberapa lembar daun bringin yang berjatuhan di atas air.

gili-raja gili-raja

Jalanan menuju Pantai Bringin cakep banget. Aku sama Mbak Zie sempat berhenti di beberapa titik untuk berfoto sampai-sampai disusulin sama Pak Kurdi. Mungkin karena gak kunjung nyampek, takut kesasar kali.

Pertama kali sampai di Pantai Bringin yang menarik perhatian adalah banyak tumbuhan berduri yang memenuhi sebagian pantai. Tumbuhan ini bernama rumput gulung/rumput lari-lari/rumput angin yang memang sering dijumpai tumbuh di tanah berpasir, umumnya di pinggir pantai kayak gini.

gili-raja
Jalan menuju Pantai Bringin

Di tempat ini aku lihat ada beberapa bangunan terbuat dari susunan batu dengan atap genteng yang berukuran tidak terlalu tinggi. Kata Pak Kurdi ini tempat penyimpanan garam ataupun hasil pertanian penduduk sekitar. Perpaduan hamparan rumput gulung dan bangunan unik ini bisa jadi background yang ciamik buat foto-foto. Kayak di negeri dongeng, mungkin.

gili-raja

Pantainya juga cukup bagus dengan ombak yang cukup bersahabat. Sayang terlihat kurang terawat gitu. Aku baru tahu setelah pulang dari Gili Raja kalau ternyata tak jauh dari Pantai Bringin terdapat bangkai kapal belanda yang akan terlihat pada saat air laut sedang surut. Sayang banget kita tidak melihatnya waktu di Pantai Bringin.

Makam Ki Agung Demang

Konon Ki Agung Demang dan Ki Agung Labuh adalah orang pertama yang menghuni Gili Raja. Untuk menuju ke sini kita tadi lewat jalan yang lumayan ekstrim. Tanjakan dengan batu yang cukup terjal, Mesti ekstra hati-hati mengemudikan motor, dan yang bonceng harus turun dulu demi kemanan bersama. Tapi seru, sedikit memacu adrenalin. Barulah setelah melewati tanjakan ini kita melanjutkan perjalanan seperti semula.

Sampai di makam kita bertemu beberapa pemuda setempat yang akan mengaji di sini. tempatnya bersih beralaskan pasir dan juga rindang. Kalau mau masuk ke area makam harus lepas alas kaki. Ada beberapa buah makam yang dibangun beratapkan genteng dengan ukuran yang tidak terlalu tinggi. Aku perhatikan banyak sekali bendera merah putih.

gili-raja
Lepas alas kaki dulu

“Biasanya kalau ada yang hajatnya tercapai mereka selametan makan-makan di sini dan menaruh bendera,” jelas Pak Kurdi. Kita semua manggut-manggut.

“Nasionalis banget ya orang Gili Raja ini,” pikirku.

Menikmati Senja di Dermaga

gili-raja gili-raja

Hari udah mulai petang. Spot terakhir, kita pergi ke dermaga tak jauh dari makam Ki Agung Demang. Ceritanya kita akan menyaksikan matahari tenggelam di Gili Raja. Tapi sepertinya kita sedikit terlambat, mataharinya sudah mulai tenggelam. Meski begitu pendar-pendar warna kemerahannya masih terlihat menghias langit. Di bagian sisi langit yang lain awan membentuk seperti angin puting beliung gitu, cantik. Terus kita melihat sekumpulan ikan berenang melompat-lompat ke permukaan. Terlihat hanya sekilas dan cukup jauh tapi atraksi semacam ini menakjubkan.

Menginap di Gili Raja

Malam ini kita akan menginap di rumah kerabat Pak Kurdi yang sedang ada keperluan di kota Sumenep. Khusus malam ini rumahnya kita bajak. Rumah sederhana terdiri dari 2 kamar yang menyambung dengan dapur dan 2 kamar mandi. Terdapat mushola di depan rumah yang menjadi tempat belajar mengaji untuk anak-anak sekitar selepas maghrib sampek setelah isyak. Ada dapur dan bangunan tua yang berhadapan dengan rumah utama. Di tengah halaman terdapat pohon mangga dan pohon jambu yang lumayan membantu menjadikan rumah sedikit lebih rindang.

gili-raja

gili-raja gili-raja

Untuk listrik di sini memakai panel surya yang diletakkan di atas genteng rumah. Kalau gak salah inget tuh ya jam 10 malam listrik udah mati, kayaknya secara otomatis cuma menyisakan lampu tertentu yang bisa hidup. Baru jam 5 pagi listrik kembali menyala.

Sehabis shalat isyak kita makan malam dengan menu sederhana tapi lengkap. Ada nasi, ikan laut, tahu tempe, sayur, sambel, plus krupuk. Nikmat banget makan rame-rame. Setelah makan semua langsung tepar, kecapean setelah mengeksplore 3 pulau seharian. Apalagi listrik udah mati jadi cepat terlelap.

gili-raja gili-raja

Mengejar Sunrise

Selamat pagi Gili Raja. Mbak Ana sudah siap dengan kameranya. Menyusul Mbak Zie, Dek Eva, dan Mbak Nikmah jalan pagi menuju tempat kemarin kapal bersandar. Sementara aku masih belum apa-apa karena antre kamar mandi. Karena udah ketinggalan aku, Dek Sofi, sama Dek Ila naik motor menyusul temen-temen yang lain. Hampir aja telat, pas nyampek matahari udah mulai merangkak naik. Ya udah langsung pepotoan deh. Alhamdulillah diberi kesempatan menyaksikan sunrise yang cantik banget pagi ini. Setelah matahari benar-benar naik kita balik mau siap-siap untuk acara berikutnya. Ada untungnya juga aku sama Dek Ila bawa motor jadi gak perlu capek jalan kaki. Sampai di sini dulu cerita eksplore Gili Raja, sampai jumpa di postingan selanjutnya. 🙂

gili-raja gili-raja

 

Terima kasih sudah komen :)