Finger Print

Senin, 16 Feb 2015

Pagi, ritual wajib sebelum masuk kantor adalah absen. Ini penting banget untuk mendata kehadiran karyawan. Jika ritual ini ditinggalkan maka  kita akan tercatat tidak masuk kerja. Masuk ke pos satpam mataku langsung terfokus pada jajaran kartu cheklock biasa ditaruh. Biasanya aku menaruh di barisan paling bawah agar mudah ditemukan. Karena sesuatu yang istiqomah itu katanya lebih barokah, hehe. Kalau kartunya sudah di dapat bisa langsung masukkan ke mesin cheklock yang ada di sebelahnya.


“Cekrek” jika sudah berbunyi demikian kita bisa menariknya dan di sana sudah tertera pukul berapa kita absen. Kalau lewat dari jam 08.00 maka tulisan di kartu cheklok akan berwarna merah. Artinya telat ding. Tapi tunggu, tunggu. Ada yang beda kayaknya. Kok kartu cheklocknya gak ada? Kemana semua mereka pergi? Sebelum sempat mengedar pandang ke arah lain. Sebuah suara menjawab kebingunganku.
“Pakek itu sekarang, Mbak,” tunjuk satpam pada sebuah mesin yang lebih kecil dari mesin cheklock di sebelahnya.
Aku mengerti, mulai hari ini absensi beralih menggunakan finger print. Minggu kemarin Pak Ervin memang sudah mendata masing-masing sidik jari semua karyawan di kantor. Sebenarnya dari bulan lalu mesin ini ada di kantor cuma masih penyesuaian cara pengoperasiannya sehingga baru bisa di gunakan hari ini.

Tanpa babibu lagi aku segera menyentuhkan jari telunjuk ke monitor yang ada di mesin tersebut.
“Terima kasih.” Suara elegan seorang wanita terdengar saat aku mengangkat jari. Di layar monitor tertera nama “TITIN” dan no absen 29.

Finger print adalah mesin pendeteksi sidik jari untuk mendata kehadiran karyawan. Mesin ini lebih praktis dan pastinya lebih akurat. Tapi ini adalah petaka bagi karyawan yang suka sekali titip absen. Kalau pakek mesin Cheklock masih bisa diabsenkan siapa saja meskipun orangnya belum nyampek kantor. Tapi kalau sudah pakek finger print acara titip absen sudah tidak berlaku lagi. Terkecuali jarinya bersedia dipotong untuk dititipkan, hehe.

Terima kasih sudah komen :)