Gagal itu, Sakit

20141126_064218[1]

Postingan kali ini bernada sendu, senada dengan suasana hati saat tulisan ini dibuat. waktu itu hari Selasa, tanggal 25 November 2014.

“Bagaimana pengumumannya, Tim? Lulus?” tanya Ibu dengan wajah penuh harap saat aku baru pulang kerja.

“Belum keluar, Bu.”

Sudah seharian ngecek webnya Kemenkeu karena pengumuman hasil psikotes akan keluar. Tapi sampai sore pun belum juga ada tanda-tanda keluarnya.

“Coba dilihat lagi!” desak Ibu tidak sabaran.

Sambil duduk di depan TV aku kembali mengutak-atik layar HP menuju web Kemenkeu. Menunggu loading beberapa detik rasanya deg-degan banget. Ternyata sudah keluar pengumumannya. Tapi sayang server lagi error. Penonton kecewa, huuuuu. Setelah mengisi perut yang kelaparan aku coba buka lagi. Alhamdulillah bisa pemirsa. Karena file-file lampiran pengumuman dibagi berdasarkan jurusan, langsung aku download untuk jurusan Ekonomi Pembangunan. Setelah membukanya aku susuri barisan nama-nama dan nomor peserta yang tertera. Tapi apa yang terjadi pemirsa? Namaku tidak ada. Hiks.

Untuk meyakinkan lagi kembali kuulangi menyusuri deretan nama-nama itu. Tapi tetap tak kutemukan nama “TITIN MATUN NURAINI”, Huwaaaaa…..

Tenggorokanku rasanya tercekat untuk mengabarkan ini pada orang tuaku. Tapi dengan sangat berat aku harus bilang, “Ayah, Ibu, aku gak lulus.” Setelah mengatakan ini aku tak berani menatap wajah mereka. Aku tahu pasti bagaimana terlukanya mereka. Harapan mereka sangat besar. Aku bukan hanya gagal menjadi PNS Kementrian Keuangan tapi aku juga gagal mengukir senyum dan kebahagiaan untuk orang tuaku. Rasanya perih.

Aku tidak terlalu sedih karena aku tidak lulus. Aku telah berkali-kali mengalami kegagalan seperti ini. dan aku telah belajar mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Yah, tapi tak bisa dipungkiri tetap saja rasanya sakit. Jleb….

Dalam setiap doaku aku selalu meminta yang terbaik. Aku percaya ini adalah jawaban Tuhan yang terbaik untukku. Aku mencoba terus berpikir positif. Mungkin Tuhan masih ingin aku belajar lebih banyak lagi di sini. Belajar untuk menjadi lebih kuat. Belajar membenahi kekuranagan. belajar untuk lebih bersungguh-sungguh dalam berdoa dan berusaha untuk meraih mimpi dan cita-cita. Dan belajar untuk menjadi lebih baik dari kegagalan ini.

0 thoughts on “Gagal itu, Sakit

Terima kasih sudah komen :)