Hawa paling dingin

Suasana di luar begitu mencekam. Tak ada terik matahari pada siang ini.  Langit gelap menumpahkan seluruh isinya. Pohon-pohon ribut bertabrakan karena angin yang kencang. Kami yang ada di kantor  berkumpul di ruangan depan menyaksikan keributan alam di luar dari balik jendela. Beberapa kendaraan tetap melintas menerjang badai yang sedang berlangsung. Ngeri ngebayangin kalau tiba-tiba pohon di sepanjang jalan roboh.

Aku sama Mbak Riska kembali ke ruang marketing. Hujan masih begitu deras mengguyur mengetuk-ngetuk jendela dengan keras. Sebagiannya menyelinap melalui celah jendela yang tak bisa tertutup rapat. Menciptakan genangan berwaran kekuningan di sudut ruangan tepat di bawah meja promotor.  Jejak-jejak air menggelosor di kaca membuat pemandangan di luar semakin buram. Sesekali muncul kilatan dari langit yang gelap di susul suara petir menggelegar.

Jalanan masih basah pada sore hari. Hujan menyisakan percikan kecil yang mengikuti putaran roda. Tangan kiriku menggenggam erat lengan kanan yang sedang menarik gas motor perlahan untuk mengurangi dingin yang menusuk. Hawa paling dingin menurutku adalah saat hujan baru saja berhenti. Apalagi berkendara tanpa menggunakan jaket seperti ini. beneran gak tahan.

Jalan yang sudah mulus tak banyak menciptakan genangan. Tapi tetap harus berhati-hati karena jalan masih licin. Sesekali mobil melintas dengan kecepatan tinggi mencipratkan sisa–sisa air hujan. Di Slempek –pertigaan menuju ke rumahku- air berwarna cokelat mengaliri sawah-sawah yang ditanami padi. Parit-parit pun sampai meluap gak bisa menampung aliran air yang begitu banyak. Mungkin saking derasnya hujan tadi siang.

Terima kasih sudah komen :)