Keliling Dungkek Sumenep Seharian, dari Pantai hingga Bukit Kalompek

dungkek

            Halo, halo… Assalamualaikum, balik lagi di blog aku yang masih sepi aja nih. Sering-sering main dong biar blogku tambah rame, hehe. Nah, Cerita perjalanan aku kali ini gak ada niatan sama sekali buat pergi ke tempat wisata tertentu. Minggu sebelumnya aku sama Mbak Leha kan udah ngebolang ke Boekit Tinggi dan Taman Tectona. Jadi minggu ini Mbak Leha ngajakin aku ke rumah Pak Iskandar, salah satu dosennya waktu di Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Mau silaturahmi sama ngobrol-ngobrol tentang rencana setelah baru lulus gitu. Rumah beliau itu di daerah Dungkek Sumenep, letaknya di ujung paling timur pulau Madura sana. Kita berangkat lebih pagi karena jarak lumayan jauh dari Pamekasan, sekitar 2 jam perjalanan lah naik motor.

Gak terlalu sulit menemukan rumah Pak Iskandar yang berada di pinggir Jl. Raya Dungkek. Kebetulan aku juga pernah ke daerah situ sebelumnya jadi udah gak terlalu asing sama jalannya. Kita gak tahu sih yang mana pastinya rumah Pak Iskandar, nebak-nebak aja berdasarkan informasi dari tetangga beliau yang tadi kita tanyai. Masalahnya ini rumah sepi banget, jendelanya terbuka tapi pintunya tertutup rapat. Dari tadi celingak-celinguk dan manggil salam berkali-kali gak ada tanda-tanda adanya seorangpun. Dan ternyata setelah cukup lama menunggu salah satu keluarga Pak Iskandar muncul dan bilang kalau beliau sedang tidak di rumah hari ini.

“Tadi malam baru datang dari Malang Mbak, terus tadi pagi-pagi berangkat lagi,” jelasnya.

            Hmmm, rencananya sih Mbak Leha juga mau ketemu Mbak Isma, temennya waktu kuliah di UGM. Yaudah kita ke rumah Mbak Isma dulu, mungkin nanti pulangnya mampir lagi ke sini. Mudah-mudahan aja Pak Iskandarnya udah dateng. Nah, kalau rumah Pak Iskandar ini bagian paling barat Kecamatan Dungkek, rumah Mbak Isma terletak di ujung paling timur Kecamatan Dungkek sana. Jadi ceritanya hari ini kita seharian keliling daerah Dungkek dari ujung paling barat hingga ujung paling timur, haha. Perjalanan itu selalu penuh kejutan, ya. Siapa menduga kita bakal ketemu sama tempat-tempat indah dan menarik yang sayang untuk di lewatkan. Apa sajakah itu? Cekidot……

Pantai Anonim

dungkek
Airnya jernih

Tak seberapa jauh dari rumah Pak Iskandar ada Pantai yang tempatnya tuh sejuk banget, namanya Pantai Toraja. Aku sudah pernah kesana sebelumnya. Ada satu tempat yang selalu menarik perhatianku kalau lewat daerah situ. Di sebelah Pantai Toraja itu ada kebun kelapa di pinggir jalan yang berbatasan langsung dengan pantai. Kayaknya tempat itu asyik banget, aku pengen banget ke sana. Tapi selalu takut untuk mampir karena sepertinya bukan tempat untuk umum dan kelihatan sepi.

dungkek dungkek

 

Kali ini kita memberanikan diri melewati jalan setapak hingga sampai ke tepi pantai. Beneran di sini asyik banget, deh. Air laut masih surut, membuat kita bebas berlarian di batuan karang landai. Sebagian pasir lembut menampilkan diri di sela-sela batuan karang yang mendominasi tempat itu. Sama seperti di Pantai Toraja air lautnya jernih dan anginnya sepoi-sepoi. Barisan pohon kelapa melambai-lambai manja mempercantik pemandangan. Siang itu matahari tidak terlalu terik bersinar sehingga kita menikmati banget nuansa pantai yang magis. Aku suka kegirangan sendiri kalau udah ketemu pantai cantik kayak gini. Soal nama tempat ini sebut aja anonym karena memang gak ada namanya kan.

dungkekdungkek

            Kita menghampiri 2 ibu-ibu paruh baya yang sedang mencari tiram, sejenis kerang-kerangan yang cangkangnya menempel pada batu karang. Mereka menggunakan alat sederhana berupa kayu bulat memanjang yang ujungnya dikasih paku. Jadi kayu tersebut dipukulkan hingga ujung paku yang tajam menempel di cangkang kerang kemudian menariknya hingga cangkang itu terbuka. Barulah isi tiram dicongkel dengan kayu kecil dan dimasukkan ke dalam wadah kecil yang mereka pegang di tangan kiri. Kalau wadah kecil udah penuh kemudian ditampung di ember yang lebih besar. Dengan cekatan mereka melakukan pekerjaan ini saat air sedang surut. Katanya sebagai penghasilan tambahan, lumayan.

Pantai Muara Indah

Tadinya aku cuma melihat sekilas papan nama bertuliskan Pantai Muara Indah di belokan saat menuju rumah Mbak Isma. Aku belum pernah tahu ada nama pantai seperti ini di Madura.

“Lewat dari sini bisa kok,” ucap Mbak Isma menunjuk ke belakang rumahnya saat aku tanya tentang Pantai Muara Indah.

Sepulangnya dari rumah Mbak Isma kita ditemani mengunjungi pantai yang aku maksud. Kita lewat ke arah belakang dari rumah Mbak Isma melewati jalan kecil dan rumah-rumah penduduk yang jarang-jarang. Kita ngekor saja di belakang Mbak Isma kemanapun dia membawa kita. Hingga sampailah kita di tepi pantai yang luas banget, memanjang dari barat hingga timur entah di mana ujungnya. Mungkin kalau terus lurus ke barat kita bisa sampai di Pantai Lombang yang terkenal dengan pohon-pohon cemaranya itu. Di sini juga banyak pohon-pohon cemara berbaris sepanjang pantai.

pantai-muara-indah pantai-muara-indah  pantai-muara-indahpantai-muara-indah

 

Meski panas matahari menyengat aku tetep seneng di sini. Kita bebas motoran menyisir sepanjang pantai sambil melambai-lambaikan tangan, sesekali berhenti untuk mengambil gambar. Ini seru banget, berteriak-teriak kesenangan serasa pantai milik pribadi. Motor terus melaju hingga sampai di sebuah dermaga. Ini nih yang namanya Pantai Muara Indah, suasananya kayak di Pantai Badur. Pantai Indah yang sepi, gak ada seorangpun di sini kecuali kita. Anginnya kenceng banget sampek Mbak Leha bilang harusnya nama tempat ini lebih cocok dikasih nama Pantai Muara Angin, haha.

Bukit Kalompek

 

bukit-kalompek

Gak cuma ke Pantai Muara Indah, Mbak Isma dan suaminya juga menemani kita ke Bukit Kalompek. Tempat ini masih baru banget, aku belum pernah sekalipun melihatnya di jagat instagram. Baru dibuka sehabis lebaran idul adha kemarin. Untuk menuju Bukit Kalompek gak terlalu sulit, cuma tempatnya emang jauh banget, terletak di ujung paling timur pulau Madura. Kalau dari Sumenep Kota sekitar 1 jam perjalanan melalui Jl Raya Dungkek lurus aja sampai Pasar Dungkek, terus lurus sampai ketemu spanduk bentang tentang Bukit Kalompek. Sampai di situ terus ikuti jalan, nanti melewati kuburan cina hingga mentok sampai lokasi wisata. Waktu kita masuk ke Bukit Kalompek tidak dipungut biaya (mungkin karena masih baru) cuma bayar parkir 2K.

bukit-kalompek

Bukit Kalompek memiliki pemandangan yang kece punya. Di sini kita disuguhkan pemandangan birunya laut yang membentang dan hijaunya kebun kelapa milik warga sekitar. Oh ya, Pulau Gili Iyang yang memiliki kadar oksigen tertinggi kedua di dunia keliatan loh dari sini. Keren deh pemandangannya. Sudah banyak gazebo-gazebo yang di sediakan bagi para pengunjung, kita bisa leyeh-leyeh menikmati pemandangan kece ini. Spot andalan di Bukit Kalompek adalah replika perahu yang terbuat dari bambu dan rumah pohon. Ini spot asyik banget buat berselfie ria. Tulisan Iconic Bukit Kalompek juga gak kalah menarik sebagai background saat berfoto. Kontur tanah di sini agak berbatu, untung kita pakek alas kaki yang nyaman.

bukit-kalompek bukit-kalompek

 

Gak nyangka seharian ini bisa ngebolang ke tempat-tempat indah di Kecamatan Dungkek. Sesuatu yang tidak kita rencanakan sebelumnya. Banyak pengalaman baru dan berharga yang kita dapatkan. Tadi di rumah Mbak Isma kita disuguhi makanan khas daerah sini, semacam kue bilus tapi teksturnya kriuk gitu. Rasanya manis banget karena bagian luarnya dilapisi lelehan gula merah tapi aku lupa namanya apa. Gak ketinggalan juga es kelapa menyegarkan tenggorokan kami di siang hari yang terik. Di sini banyak sekali tumbuh pohon kelapa. Sepanjang perjalanan ke rumah Mbak Isma banyak sekali kebun-kebun kelapa, pokoknya pohon kelapa everywhere deh, hehe.

Pulangnya kita ke rumah Pak Iskandar lagi. Alhamdulillah beliau sudah di rumah. Sayang kita cuma sebentar di sana karena adzan maghrib keburu berumandang. Acara ngebolang belum usai, perjalanan pulang masih panjang sis. Pengennya langsung pulang ke Pamekasan karena besok aku masuk kerja. Tapi kondisi mata minus sangat tidak mendukung saat menyetir di malam hari. Kita nginep dulu malam ini di Sumenep di rumah Mbak Ila (temennya Mbak Leha). Karena Mbak Ila masih ada acara kita mau langsung ke rumahnya aja. Tapi apa yang terjadi? Mbak Leha lupa dimana rumahnya dan kita nyasar, hiks. Jadilah kita mendamparkan diri dulu di POM Bensin terdekat sampai Mbak Ila datang menjemput. Setelah sampai di rumah Mbak Ila aku langsung tepar, kecapean abis seharian muterin Kecamatan Dungkek.

 

A post shared by titim nuraini (@titim_nuraini) on

3 thoughts on “Keliling Dungkek Sumenep Seharian, dari Pantai hingga Bukit Kalompek

Terima kasih sudah komen :)