Libur Akhir Tahun, Jelajah Wisata Surabaya #Part1

Hari libur adalah hal yang paling ditunggu tentunya. Secara kita bisa rehat sejenak dari aktifitas rutin yang melelahkan. Sebenarnya ini cerita liburan di akhir tahun 2015 tapi baru sempat posting sekarang. semoga saja belum basi. Libur natal kemarin aku ada libur agak panjang dari hari Kamis sampek Minggu tanggal 24-28 Desember 2015. Libur panjang kayak gini wajib digunakan buat jalan-jalan.

Rencananya aku bareng Ila mau ke Bromo tapi karena waktu itu status Bromo lagi waspada jadi kita cancel. Opsi kedua adalah ke Jogja tapi gagal juga karena Ila gak diijinin sama Ibunya. Akhirnya tujuan traveling kita jatuh ke Surabaya. Selain karena Surabaya lebih mudah dijangkau juga masih banyak Wisata Surabaya yang belum kita kunjungi. Ini adalah kali ke sekian kita ke Surabaya. Mei 2015 lalu kita naik SHT (Surabaya Harritage Track) dan main-main ke Museum House of Sampoerna

Kita mulai menyusun itinerary selama 4 hari. Hari Kamis kita berangkat, mengunjungi beberapa tempat di Bangkalan dulu kemudian bermalam di Telang, daerah kampus UTM (Universitas Trunojoyo Madura). Baru Jum’at dan Sabtu menjelajah Surabaya. Tapi belum juga sampai tiba di tujuan pertama wisata di Bangkalan, kita mengalami kecelakaan sehingga rencana buat jalan-jalan di Bangkalan gatot. Untungnya kita gak apa-apa.

“La, ke Surabayanya kita percepat aja ya, gak usah nginep,” ungkapku pas bangun tidur.

“Iya, kita kunjungi tempat yang penting-penting aja,” Ila menyepakati mengingat kondisi tubuh yang kurang maksimal abis kecelakaan kemarin.

Kita gak mau rencana liburan yang sudah kita susun sedemikian rupa ini gagal. Cekidot, simak cerita perjalanan kita selama di Surabaya ya.

Beberapa tempat wisata Surabaya yang berhasil kita kunjungi

Ekowisata mangrove Wonorejo

hutan-mangrove-wonorejo

Tempat ini menjadi tujuan pertama kita. Hari masih cukup pagi dan suasana cukup lengang ketika kita sampai. Masuk ke sini cuma bayar parkir, untuk motor Rp. 2000. Kita melihat-lihat ke sebelah kirir dulu. Di sana ada 2 rumah kayu yang berfungsi sebagai kantor petugas dan rumah baca. Dermaga kayu memanjang nampak kokoh dengan beragam info jenis-jenis burung yang ada di tempat ini tertera di sepanjang pagarnya. Membuat kita leluasa menikmati hijaunya hutan yang membelah hutan bakau. Tempat ini juga asyik banget buat foto-foto loh, hehe mesti.

hutan-mangrove-wonorejo

hutan-mangrove-wonorejo

Puas mengeksplore bagian kiri, kita beranjak ke bagian kanan. Tertera tulisan “Ke Jogging Track 200 meter”. Kita punberjalan mengikuti petunjuk tersebut. Melewati jejeran kios tempat penjual makanan yang sudah tertata rapi sampai ke tempat menyewa perahu. Tapi kita tidak naik perahunya. Ada sebuah tempat baca di sini, exitednya ada novel favoritku, Perahu Kertas.

hutan-mangrove-wonorejo
Reading Area

Kita memasuki area jogging track hanya dengan membayar Rp. 2.000 per orang. FYI, tempat ini agak tersembunyi. Tadi aja kita pikir tempat terakhir hanya sampai di sewa perahu. Ternyata jogging track ini masih terus ke sebelah timur sampek mentok. Namanya juga jogging track jadi kita jalan aja di dermaga seperti di bagian kiri tadi. Tapi yang ini lebih panjang dan tak ada pagar pembatasnya.

hutan-mangrove-wonorejo

Kita menyusuri rimbunnya hutan bakau yang berupa-rupa jenisnya. Setelah sampai di penghujung jogging track ini kitapun balik melewati jalan yang sama untuk pulang. Coba ya jalur jogging track ini ujungnya langsung ke pintu keluar jadi kan gak perlu balik kayak gini. Cukup ramai pengunjung yang datang ke sini, tiap ngambil foto mesti ada aja yang lewat. Semakin siang semakin ramai. Tempat parkirpun semakin penuh.

Nonton Bulan terbelah di Langit Amerika

Setelah dari Ekowisata Mangrove Wonorejo kita menuju Delta buat nonton. Mumpung lagi di Surabaya nih dan ada film bagus jadi harus nonton. Waktu itu lagi booming film BTDLA alias Bulan Terbelah di Langit Amerika. Film yang diadaptasi dari Novel Karya Hanum Rais dan suaminya. Sebuah film yang mengandung pesan bahwa Islam adalah agama yang damai.

bulan-terbelah-di-langit-amerika

Perjalanan berlanjut ke Monkasel yakni Monumen Kapal Selam di sebelah timur Delta Plaza ini. sebelumnya kita shalat ashar di mushala tempat kita memarkir motor di sebelah baratnya Delta. Mushalanya nyaman dan bersih. Tempat shalat cowok dan cewek terpisah. Ada kipas anginnya juga membuat kita betah disitu.

Monkasel (Monumen Kapal Selam)

monumen-kapal-selam
MONKASEL

Setelah memarkir motor dan membayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000 kita makan dulu. Dari tadi perut sudah menuntut buat diisi. Semangkok mie ayam kita pesen dan menikmatinya dengan background kapal selam pasopati 410. Setelah perut terisi kita siap menjelajahi sudut-sudut kapal selam ini.

Monumen kapal selam terletak di Jl Pemuda No 39, Genteng, Kota Surabaya tepat di sebelah Sungai Kalimas. Kapal selam Pasopati 410 buatan rusia ini adalah salah satu armada Angkatan Laut Republik Indonesia yang beroperasi Tanggal 15 desember 1962 pada Operasi Alugoro, Operasi Timor Timur, Selat Malaka, Laut Cina Selatan, dan Samudera Hindia.

monumen-kapal-selam

Setelah 28 delapan tahun beroperasi akhirnya Pasopati 410 pensiun dari tugasnya pada tanggal 25 Januari 1990. Badan kapal berukuran panjang 76 meter lebar 6.3 meter ini dipotong menjadi 16 bagian dan dirakit kembali seperti aslinya untuk mengabadikan keberanian para TNI AL yang memiliki motto “Tabah sampai akhir”. Selanjutnya monument kapal selam diresmikan tanggal 27 Juni 1998.

Masuk ke dalam kapal selam aku ngebayangin bagaimana beratnya perjuangan 63 awak kapal beserta perwira harus menahan panas di dalam kapal selam saat beroperasi.

monumen-kapal-selam monumen-kapal-selam

KRI Pasopati dibagi menjadi 7 ruangan yang dipisahkan oleh pintu sempit yang harus tertutup atau kedap ketika sedang beroperasi. Terdiri dari ruang torpedo haluan, ruang komandan, ruang periskop, ruang ABK (tempat tidur, dapur, tempat makan, dan gudang penyimpan makanan), ruang Diesel, ruang listrik dan ruang torpedo buritan. Ruangan demi ruangan yang aku masuki terlihat rumit . banyak sekali kabel-kabel dan peralatan lainnya, meskipun tertata rapi tapi tetap saja kelihatan rumit.

Ada juga diorama pemutaran film proses peperangan di laut Aru yang sudah terjadwal. Tapi kita cuma sebentar lihatnya karena ruangan penuh sesak dan kita gak dapet tempat duduk.

Masjid Muhamad Cheng Hoo

Mana masjidnya ya? masak sih kita salah jalan? Perasaan sudah ngikutin arah GPS dengan benar dan sudah sampai di tempat yang kita tuju. Karena gak yakin aku kembali menyalakan GPS dan mengikutinya. Tapi masjid yang kami cari tetep gak kelihatan. Yang kita temui hanya lapangan luas berpagar jaring-jaring gitu. Kalau diperhatikan secara seksama ada sebuah masjid di komplek lapangan ini. Iya benar masjid dengan bentuk bangunan yang ornamennya tionghoa banget. Ini dia masjid yang kita cari, Masjid Muhammad Cheng Hoo.

masjid-chengho
Welcome di Masjid Niujinya Surabaya

Bangunan utamanya kecil saja berukuran 11×9 meter persegi. Terletak di Jl Gading No 2, Ketabang, Genteng, Surabaya, masjid ini berdiri di areal komplek gedung serba guna PITI (Pembina Imam Tauhid Islam) diresmikan tanggal 28 Mei 2003.

Bangunannya mirip banget dengan kelenteng didominasi warna merah, hijau, dan kuning yang kental dengan nuansa tionghoa. Yang membedakan adalah relief naga dan patung singa dari lilin dengan lafaz Allah dalam huruf arab di puncak pagoda dan adanya bedug di sisi kirinya. Serasa berada di Masjid Niu Jie, Beijing hehe.

masjid-chengho
Foto bareng Laksamana Cheng Hoo

Di sisi bagian kiri ada sebuah kolam dengan banyak ikan koi berwarna-warni. Terdapat pahatan di dindingnya membentuk Laksamana asal cina yang beragama muslim, Cheng Hoo lengkap dengan perahunya. Satu hal lagi yang unik, kotak amal dari baja bertuliskan infaq dalam 3 bahasa (arab, china, dan inggris).

masjid-chengho
Kotak infaq 3 bahasa

Sampai di sini aku tepar. Dari tadi udah ngerasa Capek banget. energy dan emosi benar-benar terkuras. Di bawah bedug aku terbaring lemas tak berdaya. Tapi bagaimanapun kondisinya mengabadikan tempat yang kita kunjungi hukumnya adalah wajib. Belum tentu kan kita bisa balik lagi. setelah ngerasa agak baikan langsung pose beberapa gaya di depan Masjid.

Kita sholat ashar di sini sekalian jamaah shalat maghrib. Kita sempat berkenalan dengan 2 gadis Jakarta yang juga sedang liburan, Mbak Anisa dan Hudi. Malam ini kita nginep di kos temennya Ila buat ngelanjutin jelajah Wisata Surabaya esok.

Tunggu postingan selanjutnya ya!

12 thoughts on “Libur Akhir Tahun, Jelajah Wisata Surabaya #Part1

Terima kasih sudah komen :)