Menanam si Daun Emas

Panas, begitulah cuaca Madura kala kemarau. Di musim inilah pulau yang mendapat sebuatan pulau garam akan menghasilkan emas. Tapi bukan berarti di Madura ada tambang emasnya, loh. Ceritanya gini, Madura sangat potensial ditanami tanaman yang mendapat julukan si daun emas. Itu loh yang jadi bahan baku pembuatan rokok, tembakau. Kenapa disebut daun emas? Usut punya usut sih karena dulu tanaman ini jika sudah panen akan mendapatkan hasil yang melimpah sehingga orang akan berbondong-bondong untuk membeli emas. Tapi tanaman ini sempat anjlok karena cuaca yang tak menentu dan harga jual yang jongkok. Baru sekitar 4 tahun terakhir ini pamornya kembali naik meskipun tidak sejaya 15 tahun sebelumnya.
Berbicara tembakau, aku jadi inget dulu waktu kecil aku sangat senang kalau diajak menanam tembakau. Biasanya waktu menanam jam 2 siang. Meskipun panas menyengat tapi tak menyurutkan semangatku untuk membantu, bersama teman-teman lainnya yang juga tak kalah semangatnya. Sayangnya kalau siang hari kita sekolah madrasah sehingga Cuma bisa ikut membantu kalau lagi libur, bisanya hari Jum’at. Kami para anak kecil dengan keranjang di tangan mengisinya dengan belta (benih tembakau yang sudah siap ditanam). Kami bertugas membagikan satu persatu belta pada lubang yang sudah tersedia. Sementara para orang dewasa bertugas menanam, memasukkan akar tanaman dan menutupinya dengan tanah agar tegak berdiri dan tumbuh dengan subur.
Sekarang lagi musim tanam aku masih tetap senang ketika diajak menanam tembakau milik tanteku. Menanam tembakau di sini biasanya tidak berlaku sistem upah melainkan bergantian saling membantu sesiapa yang akan menanam. Gotong royong ceritanya. Aku memilih bergabung bersama keponakan-keponakanku yang bertugas membagikan Belta karena kerjanya lebih cepat dan ringan. Sementara kalau ikut menanam lebih berat dan lama karena harus berjalan jongkok memasukkan satu-persatu akar tanaman ke dalam tanah. Dasar pemalas, hehe.
Eh, yang paling seru dari menanam tembakau itu kalau udah selesai. Kami akan mendapatkan sebungkus nasi dengan lauk yang sangat sederhana yaitu sepoton telur dadar, sepotong tahu, urap, dan sambel. Nasi yang dibungkus dengan daun pisang ini rasanya sangat nikmat apalagi kalau disantap bersama-sama di sawah sehabis menanam.
Aku juga jadi inget dulu waktu kecil kami akan langsung terjun ke kolam plastik tempat menampung air untuk menyiram tembakau. Mandi kecipak-kecipuk diselingi tawa ceria bersama teman-teman yang lain. Meskipun airnya sedikit kotor kita tetap senang mandi di situ. Keseruannya tak tertandingi. Mungkin karena itulah kenapa kita selalu senang kalau di ajak menanam tembakau, hehe.

Terima kasih sudah komen :)