Mengagumi Kecantikan Pulau–pulau Kecil Di Madura: Gili Pandan, Gili Bidadari, dan Gili Raja

gili-bidadari

Awal tahun 2017 salah satu resolusiku adalah mengeksplore kepulauan yang ada di Madura. Ada banyak sekali pulau-pulau kecil di sekitaran Pulau Madura yang memiliki kecantikan bak potongan surga. Aku cuma berhasil mengeksplore 2 pulau yaitu Gili Genting dan Gili Iyang (pulau dengan kandungan oksigen tertinggi kedua di dunia).

Nah bulan Februari 2018 lalu FLP Pamekasan ada agenda Camp in Gili yang dibuka untuk umum. Setelah memastikan jadwalnya pas di hari libur tanpa pikir panjang aku segera menghubungi contact person yang tertera di postingan IG FLP Pamekasan dan segera mendaftar. Pulau yang akan dikunjungi adalah Gili Pandan, Gili Bidadari, dan Gili Raja.

Beberapa waktu sebelumnya aku sama Ila (temanku) berencana ke Gili Pandan dan Gili Bidadari tapi gak jadi karena terkendala sewa perahu. Belum lagi masih harus cari temen buat patungan sewa perahunya. Jadi aku pikir acara Camp in Gili ini adalah sebuah kesempatan emas yang gak boleh aku lewatkan.

Berangkat dari Pelabuhan Kopedi

Sabtu, 14 Februari 2018

Awalnya Mbak Nikmah (pengurus FLP Pamekasan) mengabarkan kalau akan naik mobil carteran dari Pamekasan. Berhubung yang ikut gak terlalu banyak jadi kita naik angkutan umum (a.k.a bis mini) menuju arah Sumenep. Turunnya di Pasar Kopedi Sumenep, di sana sudah ada Pak Kurdi yang akan menemani perjalanan kita. Ada gang kecil ke arah selatan, jalan kaki sedikit udah nyampek Pelabuhan Kopedi. Letaknya tidak terlalu jauh dari jalan raya.

pelabuhan-kopedi
Gang kecil menuju Pelabuhan Kopedi

Pelabuhan Kopedi merupakan pelabuhan kecil yang tidak terlalu ramai. Harusnya kita naik kapal di Pelabuhan Cangkarman yang lebih besar yang sudah ada kapal regularnya. Karena ini semacam privat trip jadi naiknya bisa di pelabuhan mana aja. Alasan lain karena kita belum tahu lokasi Pelabuhan Cangkarman jadi lebih gampang turun di Pasar Kopedi dan naik di Pelabuhan Kopedi, gitu.

Aku lihat sebuah kapal berukuran cukup besar bersandar di dermaga kecil yang sudah tidak utuh. Kapal ini bisa muat sampai 25 orang dan kita ada dua lima orang alias dua tambah lima orang, hehe, cewek semua lagi. Ada Mbak Nikmah, Mbak Zie, Dek Sofi, De Eva, Mbak Ana (dari FLP Kediri), Dek Ila (dari Taman Baca Maos), dan aku. Tentu saja ditemani sama Pak Kurdi dan 2 awak kapal. Yeah, ngetrip bareng Mbak Zie Lagi nih. Dulu yang ke Gili Genting dan Gili Iyang ngetripnya bareng Mbak Zie dan Mbak Amiy juga. Sayang Mbak Amiy gak bisa ikut dalam trip kali ini.

pelabuhan-kopedi pelabuhan-kopedi

Satu-persatu kita naik ke atas kapal. Perlahan kapal mulai meninggalkan Pelabuhan Kopedi meski sebelumnya ada sebuah insiden yang tidak kita harapkan. Bismillah, kita semua berdoa semoga perjalanan ini lancar dan selamat.

Kapal yang kita naiki luas banget, mau guling-gulingan juga bisa. Awal-awal perjalanan suasana kapal masih riuh dengan percakapan dan becandaan. Melihat ke arah belakang kapal, awan putih sedang berarak di atas langit pulau Madura, sedangkan buih-buih air laut tertinggal kemudian menghilang di belakang kapal, cantik. Antusias bertemu nelayan yang sedang menarik jaring dari atas perahu. Masuk setengah perjalanan udah mulai sepi ditinggal penumpangnya tidur. Aku sendiri gak bisa tidur. Jadi aku menikmati saja perjalanan ini. Laut sedang sangat bersahabat, angin tidak terlalu kencang, ombak tidak besar, dan langit begitu cerah, aku suka. Setelah hampir 1 setengah jam perjalanan, sebuah pulau kecil mulai terlihat.  Rasanya tidak sabar ingin segera sampai.

 Pelabuhan Kopedi gili-pandan

Gili Pandan: Air Lautnya Bening Banget

Setelah kapal merapat satu-persatu mulai turun. Karena kapalnya besar turunnya pakek tangga bambu yang memang disiapkan oleh pemilik kapal. Finally kita sampai di Gili Pandan, pulau kecil yang berbentuk hati kalau dilihat dari atas sehingga ada beberapa yang menyebutnya sebagai pulau cinta. Pulau ini tidak berpenghuni, hanya dijaga oleh Pak Jakson dan istri yang rumahnya di Gili Raja. Nama Gili Pandan sendiri konon disematkan karena dulu banyak pohon pandan yang tumbuh di pulau kecil ini. Kalau lihat di Instagram kayaknya ada spot-spot selfie gitu, tapi pas kita ke sini kok gak ada ya. Yang terlihat Cuma 2 gubuk kecil dari bambu.

gili-pandan

Aku speechless lihat air lautnya yang bening sebening-beningnya. Maunya muterin seluruh pulau dulu, baru abis itu basah-basahan. Apalah daya kita gak tahan lihat Dek Eva yang udah asyik main air. Ya udah kita semua ikutan. Begitu duduk di pinggir pantainya air laut menghempas manja menyeret tubuh membuat kita berputar-putar dan terombang-ambing terbawa ombak. Setiap kali ombaknya menghempas ada sensasi tersendiri, seru banget. Udah kayak anak kecil aja ketemu air, girang-segirang-girangnya. Bersyukur banget bisa sampai di sini menikmati potongan surga dan merasa sebahagia ini. Kita berlarian, bermain bersama ombak, pasir pantaiya jangan ditanya, putih banget.

gili-pandan  gili-pandangili-pandan gili-pandan

Memutari seluruh pulau tidak butuh waktu lama, cukup berjalan santai aja gak sampai bikin capek. Aku tak berhenti berdecak kagum menikmati air laut yang super jernih. Tapi sayang banyak sekali sampah-sampah laut yang berserakan terbawa ombak membuat pulau ini jadi kotor. Sangat disayangkan tempat secantik ini jadi berkurang keindahannya karena sampah-sampah tidak bertanggung jawab, hiks. Terlepas dari itu aku sangat senang berada di sini.

gili-pandan

Selesai mengitari pulau Pak Kurdi sudah memanggil buat naik kembali ke atas kapal. Padahal masih betah dan belum puas main-mainnya. Dengan berat hati kita menurut kemudian melanjutkan perjalanan ke pulau berikutnya.

Keliling Pulau dan Makan Siang di Gili Bidadari

Perjalanan dari Gili Pandan menuju Gili Bidadari tidak terlalu lama, tidak nyampek 1 jam kayaknya. Aku exited banget ngelihat gundukan pasir di tengah laut, kalau boleh aku menyebutnya pulau pasir. Walaupun cuma lewat aja aku exited banget deh, karena biasanya cuma bisa lihat di TV ada pulau pasir semacam itu.

gili-bidadari

Begitu kapal bersandar di Gili Bidadari maunya langsung loncat dari kapal, abis airnya itu loh bening banget, suka sangat. Tapi apa boleh buat dilarang sama Pak Kurdi dan awak kapal. Ya udah deh demi keamanan bersama. Sebagai gantinya pas udah turun melalui tangga bambu aku langsung nyebur-nyebur, kecipak-kecipuk main air lagi. Gak ada kata bosan main-main air kayak gini. Sekali lagi, air lautnya jernih banget.

Penduduk sekitar menyebut Gili Bidadari dengan nama Gili Gilingan. Ada pula yang menyebutnya dengan Gili Nyai. Pulau Bidadari ini dihuni oleh beberapa kepala keluarga saja, pulaunya tidak terlalu luas. Kita diajak berkeliling melihat produksi pengeringan ikan teri, melewati alat penyulingan air laut, dan melihat panel surya yang menjadi sumber pasokan listrik untuk menerangi seluruh Gili Bidadari.

gili-bidadari gili-bidadari

Rumah-rumah penduduk Gili Bidadari cukup padat, jalannya meski tidak luas tapi sudah berpaving. Banyak kita jumpai kacang koro bergelantungan di sepanjangng jalan. Lucunya temen-temen banyak yang gak pakek sandal. Pak Kurdi gak bilang sih kalau mau keliling pulau dulu. Jadi nyeker gitu, lari-larian menghindari jalanan yang panas sambil menenteng bekal makanan.

gili-bidadari

 

Abis keliling pulau saatnya kita makan. Ada gardu agak besar tempat bernaung dari sinar matahari yang panas menyengat. Nikmat banget makan di pinggir pantai dengan pemandangan air laut yang jernih, pasir putih bersih, berpadu dengan langit biru sempurna ditemani suara ombak. Samar-samar terdengar suara adzan dhuhur berkumandang.

gili-bidadari

 

“Kenapa namanya Gili Bidadari?” salah satu diantara kita bertanya.

“Karena dikunjungi sama 7 bidadari ini,” celetuk salah satu yang lain sambil memberi kode menunjuk kita-kita yang sedang makan. Haha, ngocol. Kita pun tertawa. Perut udah terisi saatnya lanjutkan perjalanan ke Gili Raja.

Mengeksplore Keindahan Gili Raja

Untuk Gili Raja sendiri rasanya terlalu panjang kalau aku ceritakan semua di sini. Jadi aku bakal tulis di next post abis ini aja. Aku kasih bocoran dikit deh. Selama di Gili Raja kita mengeksplore tempat-tempat cantik kayak, Pantai Beringin, melihat sumur beringin yang tak pernah kering, ziarah ke makam orang pertama yang tinggal di Gili Raja, menikmati senja di dermaga, dan menginap di rumah warga Gili Raja.

gili-raja
Senja di Gili Raja

Hari pertama Camp in Gili ini lebih fleksibel. Acaranya keliling-keliling pulau seharian, mulai dari Gili Pandan, Gili Bidadari, dan terakhir Gili Raja. Ya udah tunggu kelanjutan cerita perjalanan ini di next post ya.

Terima kasih sudah komen :)