Mengejar Sunrise di Pantai Boom dan Melipir ke Pantai Cacalan Banyuwangi

pantai-boom-banyuwangi

31 Desember 2018

Mourning Banyuwangi….

Satu hal yang gak boleh dilewatkan saat berada di Banyuwangi adalah melihat matahari terbit, sesuai julukannya Sunrise of Java. Tentu saja aku membuat itinerary wajib untuk melihat matahari terbit di ujung paling timur pulau Jawa ini. Tempat yang paling tepat untuk melihat matahari terbit adalah Pantai Boom, yang terletak di Kampung Mandar, Kec. Banyuwangi. Lokasinya sangat mudah diakses, dari penginapan hanya berjarak 3 KM atau sekitar 10 menit perjalanan.

Pagi masih buta, aku sama Ila sudah ada di jalanan Kota Banyuwangi yang masih lengang. Sehabis shalat subuh kami langsung berdandan cantik untuk mulai mengeksplore Banyuwangi di hari kedua. Untuk mencapai Pantai Boom tidak sulit karena jalanan di Banyuwangi cukup mudah diingat, belum 2 hari aku sudah hampir hafal beberapa rute jalan di sini. Tapi untuk lebih amannya tetap memakai petunjuk dari google maps.

Mengejar Matahari Terbit di Pantai Boom

pantai-boom-banyuwangi

Kalau gak salah ingat kami membayar tiket masuk sebesar 5K untuk 2 orang dan 1 motor. Sampai di kawasan Pantai Boom ini, kami bingung karena sedang ada pembangunan besar-besaran sehingga jalurnya jadi gak jelas. Beberapa jalan masih berupa tanah dan batu, sebagian lagi jalan berpaving. Kami memakai insting untuk mengikuti beberapa kendaraan yang menuju pantai.

Untunglah insting kami benar dan kami sampai di tempat parkir yang masih sepi. Buru-buru kami memarkir motor dan menaruh helm karena hari sudah mulai terang. Kami langsung berlari ke arah pantai yang masih cukup jauh. Bersyukur sekali tiba di Pantai Boom di saat yang tepat. Aku melihat matahari bulat sempurna berwarna merah muda muncul di ufuk timur, cantik sekali. Atraksi matahari terbit di Pantai Boom sangat cantik. Tak salah jika Banyuwangi mendapat julukan Sunrise of Java.

Kami sampai di bibir pantai. Perlahan matahari mulai naik menebarkan kehangatan dan memantulkan cahaya keemasan di perairan selat Bali. Penampakan pulau Bali terasa sangat dekat menambah keelokan pemandangan pagi ini.

pantai-boom-banyuwangi

Berbeda dari pantai pada umumnya, pasir di Pantai Boom berwarna hitam dengan garis pantai yang sangat panjang. Terdapat beberapa kursi santai dilengkapi payung merah besar. Segerombolan anak terlihat sedang asyik mandi sambil bercanda. Aku sendiri malas untuk basah-basahan karena tadi berangkatnya udah mandi. Kami bebas berlarian di pinggir pantai, bermain bersama ombak yang pasang dan surut dengan ritme yang teratur.

pantai-boom-banyuwangi
Sunrise of Java

pantai-boom-banyuwangi

Puas berkejaran dengan ombak, kami berjalan menyusuri garis pantai menuju dermaga di bagian utara. Semakin mendekati dermaga ombak Pantai Boom semakin besar dan tekstur pasirnya lebih kasar.

Ketika merekam beberapa moment Ila gak sadar sandal yang ia taruh di dekat kakinya tersapu ombak. Sejenak kami speehcless. Saat sebelah sandalnya kembali terbawa ke bibir pantai Ila langsung menangkapnya. Sementara sebelahnya lagi masih terombang-ambing terbawa lebih jauh. Tiba-tiba seorang bapak setengah baya datang membantu mengambilkan saat sandalnya kembali cukup dekat ke bibir pantai. Itu membuat pakaian si Bapak sedikit basah.

“Makasih Pak, makasih,” ucap Ila penuh rasa syukur. Alhamdulillah sandalnya masih selamat.

pantai-boom-banyuwangi
Dermaga

pantai-boom-banyuwangi

Banyak orang sedang memancing di kaki dermaga meski ombaknya lumayan besar. Kami naik ke atas dermaga dan mengambil beberapa gambar. Di sini kami bertemu dengan Pak Mad, orang Madura yang udah lama menetap di Banyuwangi. Pak Mad berasal dari Talango, sebuah pulau di Sumenep Madura.

Kami mengobrol banyak hal, dari Pak Mad kami tahu bahwa pasir hitam di Pantai Boom ini bisa menjadi alat terapi untuk menyembuhkan beberapa penyakit. Benar saja, kami lihat banyak orang yang jogging di pinggir pantai, kebanyakan bapak-bapak setengah baya kayak Bapak yang membantu mengambilkan sandal Ila tadi.

Setelah cukup lama kami pun berpamitan. Kami kembali berjalan menyusuri bibir pantai, berpamitan pada lembutnya pasir hitam yang basah karena jilatan ombak. Tempat parkir masih sepi, stand-stand penjual makanan juga masih satu dua yang bersiap buka. Dan kami pun meninggalkan Pantai Boom.

Melipir Sejenak ke Pantai Cacalan

pantai-cacalan-banyuwangi

Tujuan kami berikutnya adalah sebuah pantai yang tidak terlalu jauh dari Pantai Boom. Yang aku suka di Banyuwangi, pantainya tidak jauh dari daerah kota jadi mudah diakses. Lagi-lagi kami mengandalkan petunjuk dari google map. Dari jalan raya masuk ke gang, tinggal ikuti jalan sedikit udah sampai di Pantai Cacalan.

Tiket masuk ke Pantai Cacalan per orang kalau gak salah 2 ribu. Pantai Cacalan tidak jauh beda dengan Pantai Boom, pasirnya berwarna hitam. Hanya saja garis pantainya tidak terlalu panjang. Ada beberapa properti artificial bertuliskan nama pantai ini yang bisa menjadi background untuk berfoto. Di sini juga banyak penjual makanan jika perut lapar.

pantai-cacalan-banyuwangi

pantai-cacalan-banyuwangi

pantai-cacalan-banyuwangi

Aku sama Ila memilih duduk di salah satu kursi santai yang menghadap ke pantai. Menikmati Bakpau yang kami beli di dekat tempat parkir terasa lebih enak. Iya, bakpaunya enak banget.

Yang paling aku suka di sini terdapat barisan pohon kelapa tepat di bibir pantai. Bikin gak tahan untuk berfoto dengan latar view kayak gini. Tak lama, kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan kemudian melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat cantik lainnya di Banyuwangi.

pantai-cacalan-banyuwangi

One thought on “Mengejar Sunrise di Pantai Boom dan Melipir ke Pantai Cacalan Banyuwangi

Terima kasih sudah komen :)