Mengharapkanmu adalah Sebuah Dosa

Saat membuka mata pagi ini yang terlintas pertama kali dalam benak adalah kamu. Semalam kamu hadir dalam mimpiku terasa begitu nyata. Dengan tubuh masih terbungkus selimut ku raih ponsel di sebelah bantal. Jemariku cepat mengetikkan namamu di pencarian facebook. Dan kamu kembali bertahta menjadi pencarian teratas setelah sekian lama terhapus semua jejak pencarian namamu. Ya begitulah yang kulakukan setiap kali aku mengingatmu. Tak ada aktifitas baru, foto profilmu juga masih sama seperti yang kulihat terakhir kali beberapa minggu lalu. Dindingmu juga hanya berisi tag-tag dari teman-temanmu. Ah, facebookmu sudah tak semenarik dulu, dimana aku bisa tahu semua kegiatanmu di sana dari foto dan status yang rutin kau perbarui. Aku juga tidak menemukan status-statusmu yang khas, dimana aku bisa turut bersemangat setelah membacanya.

Kamu tahu kenapa aku terus mengharapkanmu? Pertama karena tak banyak lelaki yang aku kenal, dan kamulah lelaki yang paling pantas aku harapkan untuk jadi imam dalam rumah tangga kita nanti. Kamu dengan pemikiran yang matang, pengetahuan agama yang tidak perlu aku ragukan dan jiwa kepemimpinan yang kuat. Yang kedua karena aku masih saja menerka-nerka mungkinkah kamu juga memiliki perasaan yang sama? Aku masih terus berpikir tentang suatu masa bahwa kita pernah dekat meskipun itu hanya sesaat. Saat kamu setiap hari dari seberang telpon mengabarkan apa saja kegiatanmu. Meminta bertemu saat kamu pulang dengan alasan yang tidak terlalu penting yang membuatku berpikir itu hanya akal-akalanmu saja agar bisa menemuiku. Kamu menciptakan panggilan khusus untuk kita, panggilan yang memiliki arti lebih dari panggilan persahabatan menurutku. Antusias merencanakan travelling bersama meskipun pada akhirnya gagal karena kesibukanmu. Aku masih ingat saat kamu tiba-tiba mengirimkan gambar aktor yang aku suka. sepertinya kamu terlalu perhatian dengan apa yang aku suka.

Aku yakin meski membaca ini, kamu tidak akan mengerti jika tulisan ini tertuju padamu. Aku terlalu pandai menutupi perasaanku saat berada di depanmu. Kita bisa ngobrol seru tentang film, novel dan lainnya tanpa ada kecanggungan sedikitpun. Aku berhasil meredam gemuruh yang terus berkecamuk di dada saat berhadapan denganmu. Aku cukup merasa senang melihat cekungan di kedua pipimu yang tercipta setiap kali kamu tersenyum di depanku. Membuatmu terlihat lebih manis. Dan kamu tidak akan pernah menyadari ada perasaan yang tersimpan begitu dalam karena seperti yang aku bilang aku terlalu pintar menutupi perasaan. Entah aku harusnya bangga atau sedih atas kelihaianku ini.

Kamu tahu, saat itu ada segores luka yang kurasakan ketika menyadari bahwa telah ada seseorang di sisimu? Dan aku memilih untuk pergi, menyimpan rasa ini rapat-rapat. Sayang, sepertinya kenangan itu mengendap terlalu dalam sehingga kenangan-kenangan itu terus terekam dalam memory. Aku pikir akan lebih mudah mengungkapkan ketika kamu memutus hubungan dengannya. Nyatanya aku tak pernah punya keberanian untuk mengatakannya padamu. Kamu pun sepertinya semakin menjauh. Sebenarnya ada satu hal yang membuatku penasaran sampai hari ini. Kamu tidak pernah me-like apalagi koment status maupun foto yang aku posting di Facebook. Ah, mungkin postinganku tidak menarik untukmu atau adakah alasan lain? Sepertinya aku terlalu berharap kamu memiliki alasan selain itu. Tapi aku membiarkan saja tanya itu tak terjawab. Aku memilih pergi dari kehidupanmu dengan harapan yang masih tersimpan bahwa suatu saat kamu akan datang menemuiku lagi.

Selama ini, setiap kali mengingatmu aku selalu berusaha mengalihkan luka dengan berkarya. Aku tidak mau perasaan ini membuatku berkubang dalam kesedihan dan menjadikanmu kambing hitam atas keterpurukanku. Aku mau perasaan ini menjadi pemacu semangatku dalam mengejar mimpi-mimpi. Seperti nasihat dari buku-buku yang aku baca bahwa setiap luka haruslah dimanfaatkan untuk menghasilkan karya. Setiap mengingatmu aku berusaha untuk mengolah luka menjadi sebuah karya, merangkai kata demi kata membuat tulisan yang berisikan kisah kita. Kamu tidak keberatan kan?

Di luar hari masih gelap saat aku selesai menunaikan 2 rokaat shalat subuh. Aku panjatkan sebaris doa agar Tuhan menghapus saja dirimu dari pikiranku. Akhir-akhir ini aku mulai berpikir bahwa mengharapkanmu adalah sebuah kesalahan, mengharapkanmu adalah sebuah dosa. Bukankah seharusnya tempat berharap hanyalah Allah, Tuhan kita? Bukankah kamu bukanlah seseorang yang halal untuk aku pikirkan? Sepertinya aku melakukan kesalahan besar karena telah membiarkan perasaan menguasaiku. Seharusnya aku bisa menahan diri untuk tidak terus-menerus berpikir tentangmu. Aku bersyukur aku tidak pernah mengatakan apa-apa padamu. Rupanya Tuhan tidak ingin membiarkan kita menjalin hubungan yang akan membuat kita semakin jauh melangkahi batas-batas larangan-Nya. Aku bersyukur kamu pernah hadir dalam hidupku untuk belajar menjaga diri, menjaga perasaan ini.

Setelah ini aku akan belajar untuk tidak lagi mengharapkanmu. Aku akan belajar untuk percaya bahwa laki-laki yang baik untuk wanita yang baik pula seperti yang tertulis dalam kitab suci. Belajar untuk percaya bahwa jodoh adalah rahasia-Nya. Jika memang kamulah orang yang Tuhan ciptakan untukku, suatu saat Tuhan pasti akan membukakan jalan untuk kita bertemu, Insyaallah dalam bingkai cinta yang halal. Tapi jika tidak Tuhan pasti akan memilihkan seseorang yang terbaik untuk aku dan kamu.

 

Pamekasan, 19 September 2015

*Terinspirasi oleh seorang blogger berinisial FP

 

0 thoughts on “Mengharapkanmu adalah Sebuah Dosa

Terima kasih sudah komen :)