Menyaksi Sejarah di Tugu Pahlawan Surabaya

tugu-pahlawan

Ada satu cerita yang sangat berkesan buatku tentang Tugu Pahlawan. Dulu waktu kuliah akhir smester aku bareng Fifi nyoba-nyoba jualan aksesoris gitu di kos. Nah kulaan barang-barangnya di Pusat Grosir Surabaya (PGS). Hasil dari nanya teman dan orang-orang di Pelabuhan Perak kita harus naik len K biasanya berwarna putih buat ke sana.

“Bilang aja turun Pahlawan, Dek,” saran beberapa orang yang kutemui. Ok fix.

Setelah turun dari angkot kita biasanya menyusuri gang-gang di Pasar Turi sambil ngobrol biar gak kerasa capek. Entah waktu itu sudah berapa kali kita ke PGS. Aku masih berpikir tentang tempat kita biasa turun dari angkot. Kita tetap belum mengerti kenapa bilang turun di Pahlawan. Berhubungan gak ya sama Tugu Pahlawan? Sambil terus berjalan aku menoleh ke arah timur dan melihat ujung sebuah tugu yang sangat familiar.

“Fi, liat deh! Itu Tugu Pahlawan kan?” seruku antusias.

“Aku selalu liat itu tiap kita lewat sini. Tapi aku gak tahu kalau itu tugu pahlawan,” ucap Fifi.

Kita jadi ketawa sendiri mengingat hal itu. Yang satu tahu bentuk tugunya tapi gak pernah sadar kalau jalannya sering dilewatin. Yang satu tahu keberadaan tugunya tapi gak ngeh kalau itu Tugu Pahlawan. Kita baru ngeh kalo tempat biasa kita turun dari angkot dekat dengan Monumen Tugu Pahlawan.

Langkah kaki yang harusnya berbelok ke barat langsung deh berubah haluan ke arah timur. Di antara ramainya lalu lalang kendaraan kita mencari jalan mendekati Tugu Pahlawan. Setelah menyeberang kita sampai di pintu bagian barat yang terkunci. Dengan antusias kita menyusuri trotoar untuk mencari jalan agar bisa masuk. Dan di bagian selatan kita menemukan pintu masuk yang terbuka lebar untuk kita. Patung Bung Karno dan Bung Hatta yang tengah membacakan proklamasi menyambut kita di bagian depan. Waktu itu kita exited banget nemuin tempat menarik. Terlebih karena kita bisa sambil jalan-jalan dan melihat langsung monumen bersejarah yang tidak kita rencanakan sebelumnya. Kita mengelilingi areal monumen Tugu Pahlawan dan masuk ke Museum Sepuluh November juga.

tugu-pahlawan
Foto jaman kuliah

Nah akhir tahun 2015 kemarin aku sama Ila kembali mengunjungi Tugu Pahlawan. Cerita ini masih bagian dari Liburan Akhir Tahun, Jelajah Wisata Surabaya #Part 1 dan Liburan Akhir Tahun, Jelajah Wisata Surabaya #Part 2. Tugu Pahlawan terletak di Jl Tembaan No 19A, Alon-alon Centong, Bubutan, Surabaya. Setelah memarkir motor dan membayar Rp. 2000 kita berjalan ke pintu masuk. Senengnya ketemu lagi sama Bung Karno dan Bung Hatta yang masih setia menyambut kita seperti 3 tahun silam. Salam hormat dulu.

tugu-pahlawan
Tugu Pahlawan 26 Desember 2016

Di belakang patung Soekarno-Hatta ini ada kayak reruntuhan bangunan yang hanya tersisa beberapa pilar yang masih berdiri tegak. Terlihat artistik dengan beberapa bagian mengelupas memperlihatkan susunan bata merah di dalamnya. Ada tulisan jargon-jargon perjuangan terukir di situ kayak “Freedom Forever”, “Merdeka!”, dan “Rawe-rawe Rantas Malang-malang Poetong”.

tugu-pahlawan
Jargon-jargon perjuangan

Dari sini Monumen Tugu Pahlawan tampak tinggi menjulang di seberang lapangan hijau nan luas.  Menyaksikan monument berbentuk paku terbalik dan memiliki tinggi 41,15 meter ini  mengembalikan ingatan kita pada pelajaran sejarah di jaman sekolah. Tugu ini dibangun untuk memperingati peristiwa pertempuran 10 November yang ditetapkan sebagai hari pahlawan. Merasa bangga bisa melihat langsung simbol perjuangan para pahlawan mempertahankan kemerdekaan.

tugu-pahlawan
Monumen Tugu Pahlawan Berbentuk Paku Terbalik

Merangsek ke bagian barat ada penunjuk fasilitas apa aja yang ada di Monumen Tugu Pahlawan. Terdapat banyak pohon yang membuat suasana di sini menjadi lebih rindang. 3 buah patung berdiri tegak yakni patung Gubernur Suryo (Gubernur pertama Jawa Timur thn 1945), Doel Arnowo (Walikota Surabaya Thn  1950), dan Bung Tomo (Pejuang kemerdekaan pada 10 November), Ada juga koleksi mobil Bung Tomo.

tugu-pahlawan
Koleksi patung

Kalau sudah di sini wajib masuk ke Museum Sepuluh November yang unik berbentuk piramida. Untuk masuk ke sini gratis buat para pelajar dan mahasiswa. Berhubung kita sudah lama pensiun dari status mahasiswa jadi kita bayar Rp. 5000. Karena merupakan museum bawah tanah sedalam 7 meter kita dibawa melewati jalan menurun dan pakek escalator atau tangga untuk bisa sampai di bagian utama museum. Di dindingnya terdapat quote-quote di jaman perjuangan yang bikin hati terharu saat membacanya. Mengingatkan kita bagaimana mereka berjuang di jaman itu, pasti heroik sekali.

tugu-pahlawan

Setelah melewati eskalator kita menjumpai gambar-gambar saat pembangunan tugu pahlawan mulai peletakan batu pertama dan gambar tugu pahlawan saat selesai di bangun. Museum ini memiliki 2 lantai tapi sayang lantai 2 masih dalam tahap renovasi sehingga kita tidak bisa masuk ke sana.

tugu-pahlawan
Ila dengan latar replika suasana jaman perjuangan

Tiba di lantai dasar kita bisa melihat replika  kondisi pada saat jaman perjuangan. Ditambah pemutaran rekaman pidato Bung Tomo saat menyemangati para pejuang sehingga suasana jaman itu benar-benar kerasa. Aku sama Ila sampek menangis mendengarkan pidato Bung Tomo yang dikobarkan melalui radio itu.

“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!!!” suara Bung Tomo begitu lantang dan keras.

Aku larut dalam kobaran semangat yang di serukan bung Tomo, membayangkan hebatnya perjuangan mereka untuk dapat mempertahankan kemerdekaan. Sungguh kita patut bersyukur karena perjuangan mereka kita bisa merasakan nikmatnya kemerdekaan dan kita patut menjaga kemerdekaan ini sebaik-baiknya.

tugu-pahlawan
Daftar koleksi museum lantai dasar

Di lantai ini kita bisa melihat benda-benda bersejarah bagian dari history kemerdekaan Indonesia. Ada bambu runcing, senjata andalan rakyat Indonesia ketika berperang melawan penjajah. Ada juga barang-barang milik Mayjend Soengkono, peralatan drumband yang eksis saat itu, koleksi foto, pernak-pernik 10 November dan benda-benda bersejarah lainnya yang berbau perjuangan. Setiap benda diberi keterangan dalam 2 bahasa Indonesia dan Inggris.

Ada juga pemutaran film masa-masa peperangan tapi kita lihat sebentar, tak sampai selesai. Kita keluar ke arah timur dan muncul kembali ke permukaan.

tugu-pahlawan
Museum Sepuluh November berbentuk piramida

Keluar dari museum ini membuat semangat nasionalisme semakin tumbuh. Sejarah kemerdekaan Indonesia begitu panjang dan berkat perjuangan para pahlawan yang gigih kita bisa merasakan kemerdekaan. Sudah seharusnya kaum muda dapat mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal positif untuk menghargai perjuangan para pahlawan kita. Tugu Pahlawan symbol perjuangan tegak berdiri begitu kokoh di depan kita. Pidato bung Tomo masih terus terngiang-ngiang sampai hari ini, Merdeka!!!

2 thoughts on “Menyaksi Sejarah di Tugu Pahlawan Surabaya

Terima kasih sudah komen :)