moment in Jombang scene 1-6

Jum’at, 12 Oktober 2012

Scene 1 @Telang 10.00

Aku, Dewi, dan Fitri janjian ketemu di pertigaan sebelum masjid Telang. Aku sama Fitri ikut Dewi pulang ke rumahnya di Jombang. Hampir 3 tahun sekelas dengannya, baru pertama ini aku punya kesempatan ikut ke Jombang. Kami naik angkot menuju pelabuhan Kamal. Meski panas memanggang aku tetap bersemangat menempuh perjalanan.

Scene 2 @Pelabuhan Kamaletelah

Setelah membayar ongkos 2 ribuan kami turun dari angkot menuju loket untuk mendapatkan tiket kapal. Kami menyerahkan 2 lembar uang 5 ribuan. Setelah menerima uang logam seribuan kami mendapatkan 3 tiket kapal. Kami harus menunggu kapal yang hendak bersauh. Sambil menunggu kami jeprat jepret dikit dan ini hasilnya, tara…

Kapal sudah bersauh dan para penumpang satu persatu turun dari kapal. Giliran kami yang naik agar dapat menyebrangi selat Madura. Kami memilih tempat dekat dengan TV. Tapi suguhan acaranya dari awal masalah Konflik Limbat sama Istrinya. Jadi kurang seru deh.

Scene 3 @Pelabuhan Perak

Akhirnya kami berhasil menyeberangi selat Madura dan dapat menginjakkan kaki di Pelabuhan Perak. Kami langsung naik bis kota yang siap berangkat. Setelah kami duduk bis langsung melaju meninggalkan Pelabuhan Perak. Rupanya bis yang kami tumpangi gak lewat tol tapi lewat tengah kota jadinya perjalanan muter-muter dan tambah lama. Huh…

Scene 4 @Terminal Purabaya

Kelelahan mulai menjalar saat turun dari bis di terminal Purabaya, Bungurasih. tapi tetap narsis dunk, hehe…

Langsung kami menuju bis jurusan Ponorogo dengan rute Surabaya, Krian, Mojokerto, Jombang, perak, Kertosono, Baron, Nganjuk, bagor, Saradan, Caruban, Balerejo, Madiun, Pagotan, Dolopo, Mlilir, dan terakhir Ponorogo. Kami naik bis yang ber-ac sehingga panas matahari tidak terlalu terasa. Tapi kita duduk di kursi paling belakang sehingga membuat perutku mual karena setiap ada jomplangan pasti kerasa banget.

Scene 5 @Stasiun Jombang, Alun-alun Kota

Kami turun di depan stasiun Jombang, tepatnya di depan alun-alun. Saat beberapa tukang becak motor menawarkan jasanya, kami menolak dengan ongkos lima belas ribu rupiah. Kita cari becak lain dan ternyata memang ongkosnya 15.000 jadi karena tak ada pilihan lain kami bertiga pun naik. Ini pertama kalinya aku naik becak motor. Rasanya kayak dilempar-lempar. Apalagi pas nyampek jalan yang berlubang serasa diterbangkan aja.

Pas melewati rel kereta api  jalannya agak menanjak. Aku takut becak motornya gak bisa naik atau kita terlempar karena kecuraman. Atau pas lagi di tengah rel becaknya gak bisa jalan dan kereta api melintas dengan cepat. Bruk… pasti kami hancur berantakan (ah, lebay…). Untunglah itu Cuma khyalank. Setelah melewati lintasan kereta api kami disambut kebun tebu di sepanjang jalan. Di musim kemarau kayak gini sawah tetap subur dengan tumbuhan yang menghijau . gak kayak di Madura yang kering dan gak bisa ditanami apa-apa kalau kemarau panjang gini.

Scene 6 @Rumah Dewi

Kami sampai sekitar jam 3an langusng dismbut ramah Ibunya Dewi. Suasana rumah Dewi tak jauh berbeda dengan rumahku. Banyak pepohonan buah mengitari rumah ini. Kami langsung masuk dan merebahkan diri melepas kelelahan.

Setelah mandi dan shalat Ibunya Dewi sudah menyiapkan jamuan makan sore. Malemnya kita tidur lebih awal karena kelelahan setelah melewati perjalanan tadi. Aku juga pengen mala mini cepat berlalu dan pagi segera menyambut untuk meneikmati nuansa pagi di krbun tebu esok.

bersambung di sini dulu yah, tunggu scene berikutnya…!!!

Terima kasih sudah komen :)