ngabuburit di arek lancor

Sore sepulang kerja aku biasanya langsung pulang. Tapi kali ini berhubung ada Ila (sahabatku) main ke tempat kerjaku, kita ngabuburit dulu di Arek lancor (ARLAN). Alun-alun kota Pamekasan dengan simbol 5 buah celurit berdiri tegak di tengahnya. Setelah mamarkir motor kita duduk di sebuah batu yang ada di taman ini. memperhatikan keramaian kota Pamekasan menjelang waktu berbuka puasa. Awalnya kita cuma niat menghabiskan waktu sambil menunggu adzan berkumandang. Tiba-tiba terbersit keinginan untuk melihat lebih jauh tentang keramaian tempat ini untuk kami tuliskan. Kesaamaan hobby yang kami miliki membuahkan kesepakatan untuk menuliskan apa yang kita lihat, dengar dan rasakan hari ini untuk diposting di rumah maya kita. Kita sepakat besok sebuah tulisan sudah harus mengisi beranda blog masing-masing. Karena kita tidak ingin keinginan besar kita menguap begitu saja seperti sebelum-sebelumnya.  Langsung take action buat hunting fenomena.

                Alun-alun kota Pamekasan selalu ramai di sore hari apalagi pada moment ramadlan. Berbagai macam pilihan takjil tersedia untuk menu buka puasa (yang penting uangnya ada, hehe) seperti es teh, pop ice, pisang keju, terang bulan dan lainnya. Tahu bulat yang jarang kita temukan menarik perhatian kita untuk membelinya.  Satu buah tahu bulat seukuran lingkaran jempol dan telunjuk harganya 500 perak plus saos dan cabe. Setelah mengantongi 6 buah tahu bulat kita kembali menjelajahi tempat ini.

                Banyak sekali skuter dan mobil-mobilan yang tersedia untuk di sewakan. Sehingga para orang tua bisa mengajak buah hatinya untuk bermain di area ini dengan mengendarai sendiri skuter dan mobil-mobilannya. Selain itu tersedia pula wahana permainan anak-anak yang dapat dinaiki dengan membayar 4.000 rupiah per kepala. Di jamin anak anda akan senang berada di sini (Ups, kok malah jadi beriklan, hehe).

Para remaja dan orang tua juga dapat mengelilingi area ini dengan menyewa mocin (mobil cinta). Mocin ini mobil yang cara kerjanya tidak menggunakan mesin melainkan di kayuh kayak sepeda ontel. Denger-denger sih dinamakan mobil cinta karena dapat dinaiki dengan berpasangan. Tersedia 4 kursi di sana. Sambil berkeliling memutari kota gerbang salam penumpang juga dapat menikmati music dari salon yang di pasang di mocin tersebut. Biasanya music dangdut. mungkin karena mayoritas masyarakat Pamekasan penyuka dangdut.

Satu hal yang membuatku tidak suka berada di tempat ini. banyak orang memamerkan “Dem-jeddem”. Aku menyebutnya demikian karena sejauh ini belum ada nama resmi dari permainan tersebut. Terbuat dari susunan kaleng bekas susu kental manis, susunan paling atas dari botol air mineral. Katanya sih dikasih spirtus terus di pintal-pintal gitu kemudian di kocok dan keluarlah bunyi “jeddem” dengan sangat keras. Mirip-mirip meriam jaman belanda gitu. Bunyinya itu selalu bikin jantung hampir copot, makanya aku sama sekali gak suka.

Ada satu fenomena yang kita jumpai yang membuat hatiku miris. Seorang anak perempuan menghampiri kita waktu duduk di batu tadi. Dengan tanpa basa-basi ia berujar “Mbak, minta uangnya,” ujarnya seraya mengadahkan tangan kananya.

Kasihan sekali, anak sekecil dia udah harus meminta-minta. “Buat beli baju lebaran, Mbak” demikian jawabannya ketika kita tanyakan uangnya buat apa. dia bilang bersama 6 temannya  jalan kaki dari daerah Jengkah, 4 km ke selatan Arek Lancor. Menempuh perjalanan sejauh itu hanya untuk meminta-minta, Astaghfirullah. Setelah Ila memberinya beberapa uang logam ia langsung berlalu.

Terima kasih sudah komen :)