Nostalgia di Pantai Camplong

Biru!!!
Biru!!!

Berawal dari status Fifi dan Ikoh di BBM tentang rindu masa-masa di kos. Otakku langsung meginstruksikan untuk mengajak mereka ketemu. Hari Minggu kita ketemu di Pantai Camplong, Sampang sekalian refreshing. Karena pantai ini sangat mudah kami jangkau. Terletak di jalan utama Pamekasan-Sampang. Sekitar 1 jam perjalanan dari Pamekasan (aku dan Ikoh) dan sekitar 15 menit perjalanan dari Sampang (fifi). Setelah memarkir motor kita membayar tiket masuk Rp. 5000 per kepala dan Rp. 2000 per motor.

wpid-img_20150208_182959.jpg
Disambut barisan pohon cemara

Pohon cemara berjejer menyambut setiap pengunjung di sepanjang jalan yang sudah dipaving menuju pantai. Terlihat lebih teratur karena sudah dapat pengelolaan dari pemerintah. Udah ada hotelnya juga buat tempat menginap. Di samping kanan berjejer toko-toko penjual oleh-oleh dan souvenir khas madura, Mushola yang cukup besar, sama bangunan yang bisa berfungsi untuk pementasan gitu. ada acara musik kecil-kecilan yang sedang berlangsung. Di sebelah kanan ada tempat bermain untuk anak-anak seperti ayunan, perosotan, dan lain-lainnya yang berwarna-warni. Banyak gazebo-gazebo kayu yang sangat cocok untuk tempat beristirahat ataupun menikmati kuliner yang dipesan dari warung-warung berjejer di belakangnya. Kuliner khasnya rujak cingur gitu.

wpid-20150208_123857.jpg
Abaikan Modelnya, lihat gazebonya aja di belakang

Tidak sulit menemukan tempat yang nyaman untuk menikmati keindahan tempat ini. suasana yang rindang dari pepohonan menaungi tempat duduk yang banyak tersedia. Lantainya sudah berupa paving sehingga tak khawatir kotor kalau mau duduk lesehan. Aku ngebet banget pengen main ayunan yang talinya tergantung ke dahan pohon. Menurutku romantis banget buat setting novel. Main ayunan dengan background laut di belakangnya. So sweet, hehe. Karena ayunannya hanya muat untuk satu orang jadi yang lainnya duduk di dekatnya aja.

Paling suka di ayunan ini
Paling suka di ayunan ini

Pengen sih jalan-jalan di pasirnya yang membentang sepanjang pantai. Menyapa hempasan ombaknya yang menjilati bibir pantai. Tapi matahari teramat terik di ubun-ubun. Fifi sama Ikoh juga kayaknya kurang berminat. Jadi kita menikmati birunya laut yang menghampar dari tempat kami duduk. Ngeliatin lalu lalang pengunjung lain yang asyik bermain di pantai dan naik perahu. Memiliki kesempatan bisa berkumpul seperti ini setelah lama gak ketemu rasanya seneng banget. Angin laut lembut membelai wajah kita yang asyik bernostalgia tentang kenangan kebersamaan di masa lalu. Seperti mengembalikan kita pada masa-masa tersebut.

Seneng bisa ketemu kayak gini
Seneng bisa ketemu kayak gini

Baru sadar kalau ternyata pohon yang sedari tadi menaungi kita adalah pohon nyamplung, kata orang Madura pohon camplong. Buahnya bulet seperti bola bekkel. Kulit luarnya hijau dan coklat kalau udah kering. Bijinya bulet juga, keras dan berwarna coklat. Mungkin itu sebabnya disebut pantai camplong karena banyak pohon camplongnya di sini. Perkiraanku aja sih, boleh percaya boleh tidak hehe. Tapi mungkin yang lebih tepat karena letaknya di Desa Camplong Kec. Camplong Kab. Sampang.

20150208_103719
Di bawah pohon nyamplung (camplong)

Ada beberapa hal yang kurang mengenakkan di sini. Tadi pas baru nyampek ada beberapa ibu-ibu paruh baya yang nawarin lebih tepatnya maksa buat duduk di alas tiker dan pesen makanan. Kita jadi risih meskipun berulangkali menolak tetep si ibu-ibu tadi maksa. Setiap pengunjung yang dateng pasti dipaksa gitu. Dan terus gencar bergerilya sebelum mendapatkan mangsa. Kata temennya Ikoh cocok banget jadi sales, hehe. Ada juga pria resek yang nyanyi-nyanyi gak jelas kayak ngamen gitu tapi maksa banget kalo gak dikasih. Bikin risih banget kayak gitu. Sedikit mengganggu nuansa liburan yang indah.

Waktu terasa cepat berlalu. Tanpa terasa adzan dluhur telah lama berlalu. Saatnya kita shalat di mushola yang cukup besar. Tapi ambil wudlunya harus ke toilet yang ada agak jauh dari mushala. Abis shalat kita makan terus pulang deh. Sedih harus berpisah. Hiks… Berharap kapan-kapan bisa ngumpul lagi kayak gini.

2 thoughts on “Nostalgia di Pantai Camplong

  1. Pingback: Dear Titim

Terima kasih sudah komen :)