Open Trip bareng Bule ke Kawah Ijen

kawah-ijen

01 Januari 2019

Tepat pukul 12 malam Pak Arif (pemilik homestay) mengetuk pintu, membangunkan aku dan Ila untuk siap-siap ke Kawah Ijen. Kami udah bangun sejak tadi, aku sedang di kamar mandi saat terdengar suara kembang api pertanda pergantian tahun.  Di luar ramai sekali, malam ini Pak Arif sedang mengadakan acara bakar-bakar untuk semua tamu yang menginap di Mango Tree Homestay.

Pak Arif meminta kami makan terlebih dahulu sebelum berangkat. Aku mengambil sate udang dan sedikit nasi karena tidak terlalu suka ikan. Sopir jeep yang menjemput kami adalah temannya Pak Arif diajak makan juga. Setelah kenyang baru deh berangkat.

Naik jeep menuju Paltuding

Peserta open trip kali ini semuanya bule, warloknya cuma aku dan Ila. Paling belakang 2 cowok bule rusia, di tengah ada Ila dan Rume (bule asal Cina). Sementara aku duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja, mengendarai jeep suapaya baik jalannya.

Aku sama Ila memilih ikut open trip ke Kawah Ijen karena traveling cuma berdua dan gak berani naik motor malem-malem dengan medan yang sulit. Benar saja, setelah melewati pos pembelian tiket akses jalannya berliku-liku. Berkali-kali jeep melambat karena jalan menanjak yang disambut tikungan tajam. Tetap saja hati deg-degan, padahal drivernya santai aja karena pasti udah berpengalaman dengan medan seperti ini.

Aku dapat melihat dari sorotan lampu depan jeep di sepanjang jalan ini kiri kanan pepohonan begitu rapat, kayak di hutan. Karena gak bisa tidur aku mengobrol dengan drivernya tentang pariwisata di Banyuwangi khususnya perkembangan wisata Kawah Ijen.

kawah-ijen
Pintu gerbang pos Paltuding (pagi hari)

Jeep berhenti di area parkir Paltuding. Perjalanan dari Banyuwangi Kota ke Paltuding berjarak 32 KM yang dapat ditembuh dalam waktu setengah sampai satu jam. Kami turun dari jeep dan membayar biaya open trip pada drivernya. Biaya open trip ke Kawah Ijen dari Banyuwangi biasanya 200K per orang. Tapi karena kami berangkatnya pas malam tahun baru jadi 225K per orang.

Tour guide yang akan menemani kami datang menghampiri. Ia langsung membagikan masker, senter, dan air mineral. Di sini banyak sekali yang menjajakan sarung tangan, kupluk, dan syal kayak di Bromo. Aku membeli sarung tangan karena lupa gak bawa dari rumah.

Sebelum memulai pendakian 2 bule rusia ingin ke toilet. Eh mereka malah marah-marah pada penjaga toilet ketika aku kasih tahu harus bayar 2 ribu. Mereka mengomel dengan bahasa mereka yang gak kami mengerti sambil berlalu pergi. Uh, kesan pertama udah tidak mengenakkan. Ternyata open trip bareng bule tidak semenyenangkan seperti yang kubayangkan. Ketemunya sama bule kere sih….

Memulai Pendakian 3,4 KM menuju Kawah Ijen

kawah-ijen
Kontur jalan menuju Kawah Ijen (diambil saat perjalanan turun dari Kawah Ijen)

Aku bersiap, memakai jaket, kaos kaki dan sandal outdoor, sarung tangan, dan tak lupa mengalungkan masker di leher. Perjalanan dimulai dari pos Paltuding dengan tracking sejauh 3,4 KM, wow. Aku kira jalan menuju Kawah Ijen gak akan jauh beda dengan track di Bromo. Nyatanya baru mulai berjalan tracknya langsung menanjak dengan kontur tanah yang rata dan sedikit berpasir. Aku dan Ila cepat sekali capek dan sering minta jatah istirahat. Aku melepas sarung tangan dan jaket karena kegerahan saat tracking.

Si 2 bule kere udah menghilang entah kemana, syukur deh. Jadi kami kayak privat tour bertiga sama Rume ditemani tour guide bernama Budi. Mendengar namanya aku jadi ingat buku teks pelajaran Bahasa Indonesia waktu SD, ini Budi, ini Bapak Budi, ini Ibu Budi, wkwkwk.

Rume ini bule asal Cina. Yang aku salut, dia sama sekali gak bisa bahasa Inggris apalagi Bahasa Indonesia tapi gak takut traveling sendirian di tempat asing. Jadi selama perjalanan kami banyak menggunakan bahasa isyarat. Yang dia ngerti cuma kata “break” saat kami minta jatah istirahat dan “go” saat kembali melanjutkan pendakian. Berbeda dengan kami, Rume begitu lincah dan bersemangat, sama sekali gak terlihat capek.

kawah-ijen
Rume, Budi, aku, dan Ila

Budi tidak membiarkan kami beristirahat terlalu lama. Ada saat aku merasa ingin berhenti  dan kembali saja, merasa gak kuat melewati jalur yang sangat berat kayak gini. Budi dan Rume terus menyemangati, menarik tangan kami agar segera bangun dan berjalan lagi. Terkadang mendorong bagian belakang tas kami agar berjalan lebih cepat.

Budi ternyata bisa Bahasa Madura, jadi kami sering mengobrol di perjalanan dalam Bahasa Madura. Traveling ke Kawah Ijen kayak lagi traveling di Madura, lebih banyak percakapan dalam Bahasa Madura yang kami dengar dari para pengunjung. Bahkan saat berpapasan dengan sesama guide maupun penambang belerang si Budi saling menyapa dengan Bahasa Madura.

Setelah 2 KM pendakian kami sampai di Pos Bundar dan beristirahat agak lama. Rume memaksa untuk segera berangkat, dia mengisyaratkan ingin segera melihat blue fire. Aku dan Ila bingung bagaimana menjelaskannya, sampai ada pendaki dari Jakarta yang membantu menjelaskan dengan menggunakan google translate untuk menunggu sebentar.

1 KM berikutnya jalur tarcking setelah Pos Bundar masih lumayan menanjak tapi di bagian kanan jalan ada pagar pembatas untuk berpegangan. Selanjutnya jalur mulai melandai dan asap belerang mulai tercium dan membuat mata sedikit perih. Budi mengingatkan untuk memakai masker. Tapi kok gak enak ya pakek masker, bikin susah bernafas. Sekalian aku memakai kembali jaket dan sarung tangan karena udara dingin mulai terasa menusuk kulit.

Track Terjal menuju Titik Blue Fire

kawah-ijen
Track terjal menuju titik blue fire

Tiba di bibir kawah, perjalanan masih belum berakhir. Kami masih harus melewati jalur berbatu dan lebih curam sekitar 800 meter untuk melihat blue fire. Memang tujuan kebanyakan orang ke Kawah Ijen untuk menyaksikan fenomena alam blue fire yang hanya ada 2 di dunia yaitu Islandia dan di Kawah Ijen, Indonesia.

Sampai di bawah, angin bertiup membawa asap belerang ke arah kami. Banyak pengunjung yang panik dan kembali naik tanpa melihat blue fire. Aku juga sedikit panik karena asap ini membuat sulit bernafas. Masker khusus yang aku pakai sangat bermanfaat pada kondisi seperti ini. Suara nafas yang kuhembuskan melalui masker terdengar sangat jelas. Aku berlindung di balik batu dan memejamkan mata untuk menahan perih.

kawah-ijen
Proses terbentuknya belerang
kawah-ijen
Blue fire tertutup asap belerang

Beruntung angin kembali bertiup ke arah sebaliknya sehingga situasi kembali normal. Tadinya Rume juga udah naik, tapi ia balik lagi bergabung dengan kami. Asap tebal membuat blue fire tidak terlihat dengan jelas dan tidak memungkinkan untuk lebih mendekat. Kami cukup senang saat asap sedikit tersingkap dan menampilkan setitik warna biru dari balik asap belerang yang sangat tebal. Budi membantu mengambilkan video blue fire yang lebih jelas dan proses penambangan belerang dari jarak lebih dekat.

Wonderful Kawah Ijen

kawah-ijen

Hari mulai terang, menampakkan kecantikan Kawah Ijen tepat di depan mata. Kawah Ijen merupakan danau kawah yang terbentuk karena letusan Gunung Ijen dengan kedalaman mencapai 200 meter dan luas mencapai 5.466 Hektar. Airnya berwarna tosca dan merupakan danau air asam kuat terbesar di dunia. Asap belerang yang menyembur dari pinggir danau sesekali menutupi permukaan kawah terlihat semakin cantik.

kawah-ijen

kawah-ijen

kawah-ijen
Bapak-bapak penambangbelerang juga pakai masker khusus loh

kawah-ijen

Kami kembali ke atas dan melihat betapa terjalnya track berbatu yang tadi kami lalui. Pelan tapi pasti kami terus melangkah naik, sesekali berhenti untuk foto-foto dengan background Kawah Ijen. Sampai di atas aku sangat senang menikmati pemandangan. Setiap sudutnya menyajikan keindahan yang memikat mata. Entah mungkin karena terlalu antusias kakiku terkilir karena tersandung batu. Si Budi langsung membantu mengurut kakiku, dan alhamdulillah sakitnya langsung menghilang. Gak kebayang kan harus jalan sambil menahan rasa sakit. Terima kasih Budi.

kawah-ijen

kawah-ijen

Di ketinggian 2.386 mdpl lereng Gunung Ijen terlihat magis karena tertutup kabut dan asap belerang. Kami menyusurinya dengan perasaan senang. Dalam perjalanan pulang ini kami dapat melihat pemandangan cantik dengan sangat jelas. Gunung Raung terlihat gagah diselimuti pepohonan hijau dengan sedikit cekungan di bagian puncaknya. Deretan gunung lain di sebelahnya menambah keindahan panorama di pagi yang sejuk ini, I love it.

kawah-ijen

kawah-ijen

Perjalanan ini tidak membosankan karena tour guidenya, Budi mudah akrab meski baru kenal. Di jalan ia memetik strawberry hutan untuk kami. Buahnya kecil berwarna pink, kayak stawberry mini. Dengan ragu kami mencoba makan, rasanya mirip strawberry, agak kecut. Aku lihat sesekali Budi memungut sampah dan memasukkannya ke dalam plastik merah yang digantung di bagian samping tasnya.

kawah-ijen
Strawbarry hutan

Perjalanan turun dari Kawah Ijen lebih cepat daripada saat naik, butuh waktu sekitar 1 jam. Pukul 07.15 kami akhirnya tiba kembali di gerbang pendakian Pos Paltuding. Kami langsung menuju tempat parkir jeep, di sana 2 bule Rusia sudah tiba terlebih dahulu. Pemilik warung menyuguhi kami pisag goreng dan segelas teh hangat. Pisang gorengnya enak banget, ada kriuk-kriuknya.

Perjalanan Pulang

Driver jeep yang menunggu di tempat parkir sudah siap membawa kami kembali ke Banyuwangi. Pemandangan sepanjang jalan semalam tidak terlihat karena gelap. Kini aku bisa menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan pulang. Panorama hijau kebun kopi dan cengkeh memanjakan mata.

Driver jeep masih membawa kami mampir ke Air Terjun Jagir. 2 bule Rusia langsung turun menuju lokasi air terjun. Karena capek dan kemarin juga udah ke sini jadi aku sama Ila menunggu saja di warung tempat kami berteduh kemarin dan disuguhi segelas teh hangat. Rume juga menunggu di sini, ia malah meminta segera balik karena harus melanjutkan perjalanan. Tak sampai 15 menit, 2 bule Rusia udah balik lagi dan seperti biasa, menggerutu gak jelas. Yeay, akhirnya kami pulang.

Sampai di homestay kami istirahat sebentar kemudian chek out dan bersiap untuk pulang ke Pamekasan. 2 hari menjelajah Banyuwangi ala backpacker terasa sangat menyenangkan. Banyuwangi memiliki banyak sekali tempat wisata indah yang membuatku jatuh cinta. Banyuwangi is wonderful.

Terima kasih sudah komen :)