Pesona Keindahan Gili Labak dan Perjalanannya yang Mendebarkan

gili-labak

Selasa, 19 Juni 2018

Agenda abis lebaran padat merayap, kebanyakan agenda silaturrahmi dan liburan bersama keluarga pasti. Setelah menyesuaikan jadwal, aku dan Ila merencanakan H+4 Idul Fitri 2018 untuk liburan ke Gili Labak.

Kami memilih ikut open trip dari pada harus nyari sewa perahu untuk menuju Gili Labak. Menurutku ini lebih mudah, mau solotrip atau berdua pun tetep bisa berangkat dengan open trip. Di instagram banyak sekali travel agent yang menyediakan paket open trip ke Gili Labak.

Tak hanya berdua, kami membawa banyak pasukan sekitar 14 orang. Ila mengajak sepupu-sepupunya, aku pun mengajak adik dan keponakan. Dari Pamekasan kami rombongan sewa bus mini. Aku menunggu Ila dan rombongan dari subuh, tapi ternyata bus mininya datang telat sehingga waktu keberangkatan menjadi molor.

Suasana di dalam bus mini begitu riuh karena celoteh penumpangnya yang tanpa henti. Semua tampak bersemangat memulai perjalalan liburan ke Gili Labak ini. Eh, baru separuh perjalanan kebanyakan udah gak kuat menahan kantuk, mereka tertidur.

Jarak dari rumah ke Pelabuhan Kalianget 52 KM atau sekitar 1-1,5 jam perjalanan. Jadwal keberangkatan ke Gili Labak pukul 05.30 dan kami seharusnya tiba di Pelabuhan Kalianget sebelum pukul 05.00. Aku sudah menghubungi pihak travel tentang keterlambatan ini.

gili-labak

Sekitar pukul 6 kami baru tiba di Kalianget dan bertemu dengan pihak travel. Dari Pelabuhan Kalianget kami diarahkan untuk terus ke timur sedikit dan masuk gang ke kanan. Ada tempat cukup luas untuk memakir bus mini. Begitu turun, kami langsung melakukan pembayaran.

Biaya open trip ke Gili Labak 75.000 per orang dengan fasilitas perahu PP, safety jacket, tiket masuk wisata, alat snorkle, parkir mobil di Kalianget, dan rest area. Dan karena kami memesan dalam jumlah banyak dapat jatah sarapan juga.

Naik perahu dari Pelabuhan Kalianget

gili-labak

Dari tempat parkir kami jalan kaki melewati rumah-rumah penduduk menuju dermaga yang terbuat dari bambu. Di sana sudah tertambat perahu yang akan membawa kami mengarungi lautan menuju Gili Labak.

Matahari pagi mulai memancarkan cahayanya. Satu persatu kami naik ke perahu dengan hati-hati, bergabung dengan kelompok lain. setelah semua naik, mesin perahu mulai dinyalakan dan perlahan menjauhi dermaga. Sebagian dari kami menikmati sarapan nasi kotak yang disediakan dari pihak travel. Menunya daging, telur ceplok, sambel goreng kentang dan sambel terasi.

gili-labak

gili-labak

Drama Perjalanan Laut menuju Gili Labak

Di awal perjalanan kami semua sangat antusias menikmati perjalanan laut, berfoto dan merekam beberapa video untuk mengabadikan moment. Aku memberanikan diri merangkak ke ujung perahu dan minta tolong direkam dengan background laut lepas. Cuaca cerah dan laut cukup bersahabat pagi ini. Di langit sana aku melihat gumpalan awan putih sedikit kelabu berbentuk lingkaran menutupi matahari. Dan sinarnya yang mampu menerobos melalui celah tipis terlihat seperti cahaya dari langit.

gili-labak

gili-labak

Ombak mulai membesar seiring perjalanan yang semakin jauh, kami mulai khawatir. Semakin lama tempias ombak bahkan masuk ke perahu, aku semakin takut. Kami lebih banyak diam untuk mengatasi ketakutan.

Perlahan ombak mulai mereda, tapi aku merasa sedikit aneh. Sepertinya perahu yang kami tumpangi berputar arah. Penumpang lain gak ada yang sadar sampai akhirnya kami tiba kembali di dermaga keberangkatan. Rupanya benar perahu putar balik karena tidak mampu melawan ombak yang besar dan akan berganti perahu yang ada pemecah ombaknya.

Dramatis sekali perjalanan ini, harus mengulang kembali perjalanan dari awal, huft. Laut masih tenang di awal perjalanan. Kami sudah bersiap, memasuki separuh perjalanan ombak sedikit mengamuk seperti sebelumnya.

Pulau Talango menjadi tolok ukur sejauh mana perjalanan yang sudah kita lalui. Jika perahu sudah sejajar dengan ujung pulau berarti Gili Labak semakin dekat. Aku udah gak sabar ingin segera tiba, ingin segera mengakhiri perjalanan laut yang membuat hati dag dig dug meski udah pakai pelampung.

Gemuruh ombak tidak berkurang sedikitpun, sebagian berteriak antusias saat tempias airnya masuk ke dalam perahu yang membuat pakaian basah. Sebagian lagi termasuk aku memilih diam dan berdoa semoga semua selamat. Kami melihat sebuah perahu lain terombang-ambing ombak laut kayak perahu kertas yang dihanyutkan di kali dekat rumah sehabis hujan. Perahu kami pasti seperti itu dilihat dari perahu mereka.

gili-labak

Jika Pulau Talango sudah tidak tampak, seonggok pulau lain di depan kami mulai terlihat. Ini dia Gili Labak yang kami tuju, semakin lama semakin dekat hingga akhirnya perahu merapat. Aku seneng banget bisa sampai dengan selamat. Turun dari perahu hal pertama yang kami lakukan adalah menenangkan diri sebentar.

Pesona Keindahan Gili Labak

gili-labak

Kami memulai kegiatan di Gili Labak dengan berfoto di Landmark berupa tulisan “Pulau Gili Labak” yang berwarna-warni. Pesona keindahan Gili Labak terparcar melalui laut biru dan pasir putih di sepanjang bibir pantai. Kami berjalan menyusuri deretan pohon cemara yang memenuhi sebagian pulau. Di sini banyak spot foto berupa tulisan, ayunan, papan nama dan lain semacamnya.

Air laut di Gili Labak jernih banget berwarna tosca kebiruan mengingatkanku pada Gili Pandan, persis kayak gini. Pesona Gili Labak lainnya yaitu keindahan bawah lautnya. Tapi kami tidak ingin snorkling karena gak ada kacamata snorkle khusus. Mataku kan mins, jadi percuma saja, gak akan terlihat. Kami cukup bersenang-senang main-main air di pinggir pantai, mengikuti arus ombak yang tenang. Seru banget.

gili-labak

gili-labak

gili-labak

gili-labak

Puas main-main air, perut terasa keroncongan. Banyak warung kosong berderet untuk istirahat. Kami membuka bekal yang dibawa dari rumah dan makan dengan sangat lahap bahkan sampek harus nambah pop mie karena masih kurang, haha.

Aku bertanya dimana letak mushola pada salah satu pemilik warung. Katanya cukup jauh, dia menyarankan untuk menumpang di salah satu rumah penduduk yang ada di belakang warung. Rumah tempat kami shalat berupa rumah satu kamar berdinding anyaman bambu dan sudah berlantai semen. Pemiliknya ramah banget menyiapkan alas tikar untuk kami shalat. Dari yang aku lihat kebanyakan penduduk Gili Labak ini orang lanjut usia.

Kami kembali berjalan menyusuri garis pantai dan menemukan sebuah dermaga kayu. Di ujung dermaga ada bangunan berbentuk rumah kayu yang bisa menjadi spot foto cantik dengan latar laut biru. Gili Labak sungguh cantik dan memikat.

gili-labak

gili-labak

gili-labak

gili-labak

gili-labak

Ada juga deretan meja dan kursi tempat bersantai di pinggir pantai. Banyak orang berlalu lalang menenteng alat snorkling. Sambil menunggu yang lain berkumpul aku duduk dan menyaksikan temen-temen yang sedang asyik bermain bola.

Perjalanan dari Gili Labak yang Mendebarkan

Pukul 2 siang kami memutuskan untuk pulang. Cuaca tampak sangat cerah saat kami naik ke atas perahu. Namun di tengah perjalanan langit tiba-tiba gelap dan hujan turun rintik-rintik. Ketakutan mulai mendera, ombak semakin tinggi hampir sejajar dengan dinding perahu. Semakin lama hujan turun semakin deras hingga rintiknya masuk ke dalam perahu.

Langit dan laut terlihat kelabu, Pulau Talango dan Pulau Madura sama sekali tidak bisa terlihat. Suasana semakin mencekam membuat kami bungkam, hanya bisa berdoa dalam diam. Perahu yang kami tumpangi berusaha keras melewati gulungan ombak yang seolah mau tumpah ke dalam perahu. Aku merasa sedang berselancar rame-rame di tengah laut. Dan ini kondisi yang sangat mendebarkan. Aku tidak bisa membayangkan jika kejadian buruk menimpa kami di tengah laut seperti ini. Aku berusaha pasrah dan membuang jauh pikiran tersebut.

Alhamdulillah setelah sekian lama terjebak dalam cuaca buruk, perlahan ombak sedikit mereda, daratan mulai terlihat. Mendekati Pelabuhan Kalianget laut menjadi lebih tenang tapi langit masih gelap. Di ufuk barat cahaya keemasan sedikit telihat, matahari berusaha keras menembus awan kelabu yang masih memenuhi langit.

gili-labak

Perjalanan laut dari Gili Labak normalnya tidak sampai 2 jam. Sementara perjalanan yang kita lalui menjadi hampir 3 jam. Tadi perahu sempat terbawa arus dan hilang arah. Rasanya aku sungguh-sungguh bersyukur ketika perahu akhirnya merapat kembali di dermaga bambu tempat kami berangkat tadi. Alhamdulillah kami bisa menginjakkan kaki di daratan dengan selamat.

Sampai di rest area pukul 5 sore, kami langsung bergantian mandi. Kami beristirahat, menghangatkan tubuh dengan segelas milo hangat. Aku langsung menelfon orang rumah karena banyak panggilan tidak terjawab, tadi kami tidak berani mengeluarkan HP dari dalam tas. Orang rumah sangat khawatir karena kami tidak mengangkat telepon.

Perjalanan kali ini amazing banget, perjalanan laut yang sangat mendebarkan. Dan tahukah kamu, esoknya pemerintah mengeluarkan edaran tentang larangan berlayar karena cuaca buruk sampai beberapa hari ke depannya, amazing. Ini membuatku sedikit trauma, sampai tulisan ini dibuat aku belum berani melakukan perjalanan laut lagi.

Dan aku melihat berita tentang kapal yang tenggelam akibat cuaca buruk. Gak kebayang kalau kondisi seperti itu menimpa kami. Aku sih gak nyangka karena hari-hari sebelumnya cuaca sangat cerah bahkan panas menterng. Eh tiba-tiba pas kami berangkat cuaca berubah drastis seperti ini. Bagaimanapun aku sangat bersyukur bisa pulang ke rumah dengan selamat.

Terima kasih sudah komen :)