Sehari Menjelajah Tempat Wisata di Jombang

bale-tani-jombang

Sabtu, 07 Desember 2019

Kami memanggilnya Bapak, beliau manager di Kantor. Sudah lama Bapak ngajakin temen-temen admin buat main-main ke rumahnya di Jombang, namun baru awal Desember kesempatan itu bisa terealisasi. Aku, Mbak Elin, dan Mbak Nuri akan ikut Bapak ke Jombang. Sabtu sore, kami mengusahakan semua pekerjaan selesai lebih cepat dari biasanya. Alhamdulillah pukul 4 semua udah beres dan kami bisa berangkat.

Karena akan menempuh perjalanan cukup jauh, kami isi amunisi dulu di daerah Camplong, Sampang. Makanan khas di sini tentu saja nasi kobel. Kami berhenti di sebuah warung yang tidak terlalu besar. Letaknya persis di seberang BMT NU yang ada di sebelah timur tak jauh dari Pantai Camplong. Tak perlu waktu lama sepiring nasi dengan lauk tahu, srundeng, sepotong telur dadar, dan cumi tinta hitam dapat kami nikmati.

nasi-kobal

Terjebak Macet di Jrengik Sampang

Saatnya melanjutkan perjalanan. Baru keluar dari Sampang Kota laju mobil kian melambat, terlihat kendaraan di depan juga tidak bergerak. Kami terjebak macet karena ada perbaikan jembatan di daerah Jrengik, Sampang.

Mau balik dan lewat Pantura udah gak memungkinkan, jadi mau tidak mau harus bersabar di tengah kemacetan ini. Untuk mengusir jenuh jadinya kami nyanyi-nyanyi mengkuti lagu yang diputar di mobil. Saking lamanya macet aku lihat banyak yang keluar dari mobil mencari tempat aman buat buang air. Pasti udah kebelet gak bisa nahan, haha. Hampir 3 jam terjebak, begitu mobil kembali melaju dengan normal kami berhenti di pom bensin untuk buang air, haha.

Malam semakin larut, setelah mampir sebentar ke rumah orang tuanya Bapak di Bangkalan kami lewat tol biar lebih cepet. Tiba di Rest Area KM 726 Bapak beristirahat untuk tidur sebentar sekitar 15 menit. Sekitar pukul 12 malem kami baru sampai di rumah Bapak dan langsung istirahat.

Selamat Pagi Jombang

Minggu, 08 Desember 2019

Kami memanggilnya Mami, istrinya Bapak. Mami baik banget, pagi-pagi udah disiapin sarapan. Kegiatan pagi ini kami bermain sama Hazel (anaknya Bapak) yang terlihat seneng banget banyak temen di rumahnya. Bapak menawari untuk jalan-jalan ke daerah Batu, Pacet, atau Trawas gitu. Karena kami sedang di Jombang jadi lebih memilih untuk mengkesplore tempat wisata yang ada di Jombang aja.

Menuju Wonosalam

Sayangnya Mami gak bisa ikut karena kurang fit, jadi cuma Hazel yang ikut. Dia terlihat seneng banget mau jalan-jalan sama kami.

Wonosalam terkenal dengan buah duriannya. Sepanjang jalan banyak sekali pohon durian dan buahnya yang masih muda bergelantungan. Ada pula pohon manggis dan petai banyak kami jumpai di sini. Kontur jalanan di Wonosalam tidak luas, menanjak dan berliku. Beberapa kali aku harus menahan nafas saat mobil berjalan melambat di tanjakan. Untuk pemandangan menurutku gak ada yang special sih.

wonosalam

Sebenarnya kami masih bingung mau kemana aja di Wonosalam. Awalnya mau ke Air Terjun Tretes. Di tengah perjalanan kami berhenti untuk membeli durian dan bertanya medan menuju Air Terjun tersebut. Kami mengurungkannya karena sepertinya tidak memungkinkan harus tracking jauh bareng Hazel yang masih kecil. Akhirnya kami berubah haluan menuju Wisata Sumber Biru.

Sensasi Kulineran di Sungai di Wisata Sumber Biru

sumber-biru-wonosalam

Hazel sampai tertidur menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari Jombang Kota. Kami tiba di Wisata Sumber Biru sekitar pukul setengah 12. Setelah membayar tiket per orang 5K kami berjalan melewati deretan warung penjual makanan. Udara di sini sejuk dinauingi pohon-pohon rindang. Tempat ini unik banget, aku suka.

Perhatianku langsung terfokus pada kursi dan meja berwarna biru berderet rapi di sungai kecil yang airnya mengalir jernih. Hampir semua meja terisi penuh oleh pengunjung. Kami harus menunggu sebentar, begitu ada meja yang kosong kami langsung turun untuk mengamankannya.

sumber-biru-wonosalam
Pintu masuk Wisata Sumber Biru
sumber-biru-wonosalam
Tempat memesan makanan

Nah pesen makanannya di gazebo bagian pojok dekat sungai. Di sini berkumpul semua menu makanan dari warung-warung yang kami lewati tadi. Jadi gak perlu ke atas lagi. Setelah memesan tinggal duduk manis dan pemilik warung akan membawakan makanannya ke meja kami.

Menu yang ditawarkan beragam, mulai yang ringan sampai makanan yang berat juga ada. Kami memesan mie goreng, mie kuah, nasi jagung, dan gorengan. Minumnya kami pesan es jeruk, es teh, dan jus alpukat. Untuk harga tenang aja, sangat ramah di kantong. Bersahabat banget buat kalangan menengah ke bawah.

sumber-biru-wonosalam

sumber-biru-wonosalam

sumber-biru-wonosalam

Worth it banget jauh-jauh datang ke sini. Pengalaman makan di tengah sungai sambil mencelupkan kaki pada airnya yang segar dan bersih kayak gini belum pernah aku jumpai di tempat lain. Beruntung kami dapet kursi yang dekat dengan air terjun mini sehingga gemericik airnya terdengar jelas seperti musik alami. Tempat ini cocok banget buat tempat bersantai dan menenangkan pikiran. Suasanyanya sejuk dan asri.

Baru aja selesai makan, gerimis datang tanpa diundang, memaksa kami beranjak menuju salah satu warung untuk berteduh. Setelah cuaca kembali cerah kami pulang.

wonosalam

Keluar dari Wisata Sumber Biru, di salah satu pertigaan kami tergoda melihat pohon durian yang lebat banget. Pohonnya tak terlalu tinggi tapi buahnya banyak bergelantungan dan besar-besar. Auto ngiler dah lihatnya. Bapak menghentikan mobil dan meminta ijin sama si empunya untuk kami berfoto.

Berburu Spot Foto Selfie di Bale Tani

bale-tani-jombang

Dari Wisata Sumber Biru Bapak mengarahkan kendaraan ke daerah Banjaragung, Kec. Bareng, Jombang. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke Bale Tani yang jaraknya 14 KM. Kalau di Wonosalam tempatnya durian, sepanjang jalan menuju BaleTani banyak sekali kami jumpai pohon rambutan yang mulai berbuah.

Bale Tani merupakan tempat wisata di Jombang yang bertema pertanian. Parkir motor dan mobil terlihat penuh ketika kami sampai. Deretan beraneka bibit pohon yang dijual untuk pengunjung menyambut para pengunjung sebelum tempat pembelian tiket. Tiket masuk Bale Tani sangat murah, cuma 5K per orang. Ada juga tiket terusan sebesar 10K per orang, include area Bale Kebun dan Bale Sawah.

bale-tani-jombang

bale-tani-jombang

bale-tani-jombang

bale-tani-jombang

Begitu Masuk Bapak Dan Hazel langsung menuju kolam renang untuk anak-anak sedangkan aku, Mbak Elin, dan Mbak Nuri berburu spot untuk foto-foto. Di sini banyak sekali spot-spot cantik buat background foto dengan berbagai macam gaya. Mulai dari kotak telfon berwarna merah kayak di Inggris, sepeda ontel yang dipenuhi bunga di keranjang depan dengan mural bertuliskan Bale Tani sebagai backgroundnya, sampai payung gantung warna-warni. Fasilitas di sini juga sangat lengkap mulai kamar mandi, mushola, dan cafe.

Bale Kebun

bale-tani-jombang

Aku sama Mbak Nuri mau eksplore Area Bale Kebun sedangkan Mbak Elin menunggu di dekat kolam renang karena capek. Jika tidak memakai paket terusan tiket masuk ke area ini 5K per orang. Sampai di pintu masuk angin bertiup cukup kencang dan para pengunjung dan petugas banyak yang keluar. Aku sama Mbak Nuri malah memaksa untuk masuk.

Di area ini ada beberapa kebun buah seperti kelengkeng jan jambu merah. Nuansanya lebih ke outdoor dan banyak spot selfie yang instagramable juga. Ada ayunan, tempat bermain anak dan beberapa permainan outbond lainnya. Ada juga deretan rumah kecil berbentuk segitiga lengkap dengan pagarnya, gemes deh.

bale-tani-jombang

bale-tani-jombang

bale-tani-jombang
Kafe dengan ikan berenang di dalam kolam dangkal

Hujan semakin deras kami berlari dan gak sengaja sampai di kafe dengan meja dan kursi yang tertata di dalam kolam dangkal. Beberapa ikan sedang asyik berenang. Di bagian depan ada panggung untuk pertunjukan. Kami terjebak di sini.

Hujan sedikit mereda, kami berlari keluar dari Bale kebun dan menghampiri Mbak Elin. Terdengar suara orang sedang berkarauke agak mengganggu pendengaran, haha. Kami menunggu sampai hujan reda. Masih ada satu spot yang belum kami kunjungi yaitu Bale sawah. Sementara Bapak memandikan Hazel kami pergi duluan ke Bale Sawah.

Bale Sawah

bale-tani-jombang

Sama seperti di Bale Kebun tiket masuknya 5K per orang. Tapi karena kami membeli tiket terusan jadi free deh. Bale Sawah terletak di antara sawah yang sedang ditanami padi yang mulai menguning. Tempat ini berupa deretan spot selfie terdiri dari 2 ruas yang di tengahnya terdapat kolam memanjang berisi ikan. Di bagian kolam terdapat bunga teratai buatan untuk pemanis.

bale-tani-jombang

bale-tani-jombang

bale-tani-jombang bale-tani-jombang  bale-tani-jombang

Saat berteduh tadi dari kejauhan aku tertarik dengan spot foto bertema bunga sakura kayak di Jepang. Ada banyak spot foto dengan berbagai dekorasi. Puas-puasin deh foto dengan berbagai gaya. Hari semakin sore, Pukul 16.00 sebentar lagi tutup, kami pun pulang ke rumah Bapak.

Belajar Makan Durian

Sampai di rumah Bapak kami istirahat dan bermain dengan Hazel. Sehabis maghrib Bapak membuka durian yang dibeli tadi siang. Yang lain makan duriannya dengan nikmat sekali sementara aku masih ragu untuk memakannya. Aku sendiri belum pernah coba makan sebijipun, mencium baunya aja bikin eneg.

“Coba aja beb, enak loh ini. Nanti buat menetralkan minum air dari kulitnya” Mbak Nuri menyodorkan sepotong durian yang aku terima dengan ragu.

wonosalam
Durian Wonosalam

“Iya beb, dulu aku juga gak mau. Tapi karena diajarin sama dia, Mas Fian, dan Febri sekarang malah doyan,” Mbak Elin menambahkan.

Aku pun menggigit ujungnya sedikit, dan merasai sedikit demi sedikit. Dan voila…. rasanya manis banget, enak ternyata. Kesan pertama yang manis dengan durian Wonosalam. Finally, belajar makan duriannya jauh-jauh ke Jombang, haha.

Wisata Religi ke Makam Gusdur

makam-gusdur

Mumpung lagi di Jombang aku berniat untuk berziarah ke makam KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur), Presiden ke 4 RI. Selepas isyak Bapak akan mengantar kami, namun sebelumnya menunggu Hazel tidur dulu karena merengek minta ikut. Mau dibawa kasihan takut pulangnya malem.

Makam Gusdur terletak di komplek pemakaman keluarga PP Tebuireng, Diwek, Jombang. Perjalanan dari rumah Bapak ke makam Gusdur dapat ditempuh sekitar 15 menit perjalanan. Bapak menunggu di mobil yang diparkir di depan masjid agak jauh dari komplek pemakaman.

Kami bertiga berjalan kaki beberapa meter melewati kawasan pondok putra. Aku bingung karena tidak terlihat komplek pemakamannya. Aku melihat banyak orang berkerumun di depan gerbang tinggi berwarna hijau yang pintunya masih tertutup. Rupanya jadwal buka untuk peziarah mulai dari pukul 07.00-16.00 dan 20.00-03.00.

makam-gusdur

makam-gusdur
Deretan oleh-oleh

Pantes saja masih tutup, aku lihat jam di HP masih menunjukkan pukul 19.30. Di sini banyak sekali penjual souvenir dan oleh-oleh mulai dari camilan, tasbih, baju, kaos, dan pernak-pernik khas lainnya. Sambil menunggu, kami berburu oleh-oleh dulu di sini.

Tak terasa sudah pukul 20.15, gerbang sudah dibuka. Kami masuk melewati deretan toko souvenir yang cukup panjang hingga sampai di area pemakaman. Makam Gusdur berada dalam pagar besi bersama makam-makan lain. Di atas pusaranya terdapat batu nisan dan dipenuhi taburan bunga berwarna-warni. Suara lantunan tahlil dan ayat suci Al-qur’an menggema dari beberapa kelompok peziarah. Dengan mengambil tempat di pendopo yang paling dekat dengan makam kami mengaji dan memanjatkan beberapa doa dengan khusyuk.

makam-gusdur

Setelah semua selesai kami pun pulang. Waktu seperti berlalu begitu cepat. Tadinya masih mau mampir ke alun-alun dan beberapa tempat, tapi karena udah malem kami hanya bisa melewatinya karena esok harus balik sehabis subuh.

See you, Jombang.

Terima kasih sudah komen :)