Suatu Pagi di Kota Banyuwangi

banyuwangi

Pagi buta kala itu, Aku sama Ila memulai petualangan dari Masjid Agung Baitur Rahman Banyuwangi. Begitu turun dari mobil travel aku mengedarkan pandangan ke arah sekitar, masih tampak sepi, hanya ada satu dua kendaraan yang lewat. Tepat ke arah tenggara dari tempat kami berdiri terdapat sebuah taman yang cukup luas. Keesokan harinya kami baru tahu taman tersebut adalah Taman Sri Tanjung. Tampak beberapa orang sedang berjalan dan berlari santai di sekitarnya.

Kuhirup udara dalam-dalam, merasai udara pagi yang masih segar kemudian berseru ke Ila, “La, aku seneng banget bisa sampai di sini.”

Ya, aku seexcited itu saat pertama kali menginjakkan kaki di Banyuwangi, hampir saja bersorak-sorak saking gembiranya. Ups, untung masih bisa nahan diri, hehe. Karena ingat belum shalat subuh kami langsung berlari menuju Masjid Agung Baitur Rahman.

banyuwangi banyuwangi

Shalat Subuh di Masjid Agung Baitur Rahman Banyuwangi

Setiap kali mengunjungi sebuah tempat aku selalu ingin shalat di masjid agung kota tersebut. Alhamdulillah aku bisa mewujudkan itu di Banyuwangi. Aku bertanya pada seorang bapak dimana tempat shalat wanita, ternyata ada di bagian selatan di lantai 2.

“Dari mana Mbak?” tanya si bapak.

“Dari Madura, Pak” jawabku.

“Hati-hati barang bawaanya ya, Mbak,” si bapak mengingatkan dengan ramah.

Setelah mengucapkan terima kasih kami naik ke lantai 2, bergantian wudhu’ dan segera menunaikan shalat subuh. Karena cukup lelah setelah menempuh perjalanan panjang kami beristirahat sebentar.

Di sini kami bertemu dengan seorang ibu yang sedang berdiam di masjid untuk menunggu shalat dhuha berjamaah, biasanya diadakan setiap hari Minggu. Si Ibu jauh-jauh dari Situbondo loh dan bisa berbahasa Madura. Jadi kami ngobrol panjang kali lebar menggunakan bahasa Madura, hehe. Beliau agak takjub mengetahui kita cuma berdua dari Madura untuk liburan. Si Ibu ini juga baik banget, ngasih kami donat dan menasihati kami supaya hati-hati.

banyuwangi banyuwangi

Masjid Agung Baitur Rahman terlihat sangat besar terdiri dari 2 lantai dan didominasi warna hijau. Arsitekturnya perpaduan antara kebudayaan Islam dan  kebudayaan daerah asli Banyuwangi. Terlihat dari banyaknya pilar penyangga yang kokoh dengan ornamen gajah oling yang mengenghiasinya. Gajah Oling memiliki arti filosofis mengajak manusia untuk selalu ingat terhadap kebesaran Allah.

Kamar mandinya bersih, air krannya mengalir deras dan dingin, mungkin karena masih sangat pagi. Ada tempat berganti pakaian terbuat dari triplek kayak kamar pas di toko pakaian gitu. Di bawah tangga bagian selatan ada ruang wudhu’ dan kamar mandi, tempat penitipan sandal dan sepatu, serta studio 1 Baitur Rahman Televisi.

banyuwangi banyuwangi

banyuwangi banyuwangi

Di bagian luar masjid terdapat barisan bunga bougenville berwarna-warni cantik banget. Bawaannya pengen foto-foto. Ada juga tempat bermain untuk anak-anak di depan masjid. Yang paling menarik tempat wudhu’ berbentuk bintang 9 dan di tengahnya menyerupai bunga anturium raksasa berwarna hijau.

Masjid ini terletak persis di depan Taman Sri Tanjung, tepatnya di Jl. Jendral Sudirman no 137 Banyuwangi.

Sarapan di Warung Makan dekat Masjid Agung Baiturrahman

Perut kok terasa lapar ya, padahal tadi malem jam 12 udah dapet service makan dari travelnya. Kami mencari makan secara random, sepagi itu tak banyak rumah makan yang buka. Begitu melihat ada sebuah warung makan yang buka kami langsung masuk. Beberapa menu sudah terdisplay di etalase meski belum banyak. Pecel menjadi menu sarapan yang kami pesan.

banyuwangi
Pecel campur lodeh

Si ibu menawari kami lodeh yang baru dimasak di atas kompor. Aku pikir agak aneh pecel dicampur lodeh tapi kata si ibu gak apa-apa. Ya udah, dicoba aja. Tak butuh waktu lama 2 piring pecel+lodeh tersaji. Hmmm nothing special sih, tapi not bad lah. Yang penting perut udah terisi.

Tujuan berikutnya adalah penginapan. Ila sudah konfirmasi sama pemilik homestay, kami udah bisa chek in jam 7. Lihat di maps jarak ke penginapan tidak terlalu jauh, hanya sekitar 1 KM. Jalan kaki kayaknya seru, tapi agak kurang yakin sih bisa kuat, hehe.

Menemukan Kilometer Nol Banyuwangi

Saat berjalan kaki, tak jauh dari tempat kami makan aku melihat sesuatu yang menarik perhatian di seberang jalan. Apa itu? Tugu Kilometer 0 Banyuwangi saudara-saudara. Serunya traveling itu saat menemukan hal tidak terduga kayak gini. So excited. Kita langsung berfoto dari seberang jalan tapi setelah dilihat hasilnya kurang bagus. Esoknya kami balik lagi untuk mengambil gambar yang lebih baik, hehe.

Entah apa alasannya, menurutku titik Kilometer 0 itu special. Di Indonesia tidak banyak kota yang memiliki tugu Kilometer 0. Setahuku cuma tugu kilometer 0 Indonesia di Sabang Aceh, titik 0 Kilometer Jogja, dan baru-baru ini Surabaya juga membangun tugu Kilometer 0 nya. Hmmm, dimana lagi ya?

banyuwangi

Ternyata Banyuwangi juga punya tugu Kliometer 0. Lokasinya tidak jauh dari Masjid Agung Baitur Rahman. Berada di pinggir jalan, persis di samping gang Singonegaraan. Bangunannya sederhana, dinding tugu berbentuk cembung berwarna hitam dengan tulisan warna putih “Kilometer 0 Banyuwangi”. Di sampingnya deretan tiang persegi panjang berwarna putih berdiri menemani dengan ornamen motif Gajah Oling yang menempel.

Tugu ini tidak mencolok dan terbilang sepi. Pas kita foto-foto dilihatin orang yang melintas di jalan kayak aneh gitu. Mungkin karena belum banyak yang ngeh dengan keberadaannya. Gak kayak di Jogja yang ramai sehingga  menjadi salah satu tujuan utama para traveler dan menjadi icon kota tersebut.

Chek in di Mango Tree Homestay

Karena tidak terbiasa jalan kaki, jarak 1 KM terasa sangat jauh. Berkali-kali cek google maps, lama banget nyampeknya. Tapi beneran seru sih, bisa lebih menikmati Kota Banyuwangi, melewati deratan rumah penduduk, pertokoan, rumah makan, dan keramaian Banyuwangi.

banyuwangi

Begitu melihat papan nama Mango Tree Homestay kami mempercepat langkah, nafas udah ngos-ngosan. Kami langsung masuk dan duduk di gazebo kayu yang ada di halaman, menunggu penjaga homestay. Pohon mangganya sedang berbuah lebat, beberapa ada yang masak dan dimakan codet.

Tidak berapa lama penjaga homsetay datang, kami mengambil kunci kamar dan kunci motor. Setelah menaruh barang bawaan kita langsung memulai petualangan menuju Baluran.

Memulai Petualangan Menuju Taman Nasional Baluran

Sebelum ke Baluran kami mencari POM bensin terlebih dahulu untuk isi bensin. Lucunya, jok motor gak bisa dibuka, aku gak terbiasa membuka jok dari tempat kunci setir. Apalagi motor sewaan baru kami pakai, jadi belum familiar. Untung ada petugas SPBU yang bantuin buka. Isi bensin sudah, perjalanan menuju Baluran pun segera dimulai.

To be continued…

Terima kasih sudah komen :)