Sunrise yang Tak Sempurna di Bukit Cinta Bromo

bukit-cinta

“Kita usahakan sampai ke Pananjakan untuk melihat sunrise. Tapi kalau jalanan macet kita melihat sunrisenya di Bukit Kingkong. Alternative terakhir jika tidak bisa ke Bukit Kingkong kita ke Bukit Cinta,” briefing Kak Heru, tour leader dalam trip kali ini.

            Dini hari sekitar jam 03.30 kita bersiap naik jeep menuju Bromo. Peserta tour Opentrip Bromo-Madakaripura ada 13 orang sehingga dibagi menjadi 2 kelompok. Masing-masing jeep berisi 7 orang. Aku satu jeep bareng Hastuti -gadis Jakarta yang bekerja di Surabaya-, Mbak Esty dan Della –teman sekantor yang juga bekerja di Surabaya-, Mbak Lidya asli Surabaya yang bareng sama suaminya, serta Kak Heru.

Saat jeep mulai melaju kepalaku langsung pusing karena jalanan yang menanjak dan berkelok-kelok sementara pemandangan di luar gelap. Perut mulai mual. Permen dan fresh care pun udah gak mempan.

Satu hal yang tak terlupakan dalam perjalanan ini, aku harus merelakan isi perutku keluar sampai 3 kali. Ini mabuk kendaraan terparah yang pernah aku alami. Perjalanan satu jam terasa sangat lama sekali. Dalam hati aku berdoa semoga bisa bertahan hingga sampai.

            Di luar masih gelap sementara di depan sudah macet dan jeep sudah tidak memungkinkan untuk berjalan lagi. Apalah daya niat ke Pananjakan harus kita urungkan begitupun ke Bukit Kingkong. Jeep yang kita tumpangi harus berhenti di sini. Aku lega karena bisa terbebas dari perjalanan yang melelahkan. Udara dingin langsung menusuk kulit begitu kita turun dari jeep. Aku merapatkan jaket, memakai sarung tangan, dan masker untuk menghalau dingin.

            Dari sini kita masih harus berjalan entah seberapa jauhnya untuk mencapai Bukit Cinta. Aku berusaha mengikuti rombongan melewati jejeran jeep di jalanan yang gelap dan menanjak. Abang-abang ojek berseliweran tak henti menawarkan jasanya untuk mengantar sampai ke Pananjakan. Sesekali aku menghidupkan senter dari HP sebagai penerangan. Ternyata Hastuti bawa senter yang kita pakai sampai tiba di keramaian.

            Dinginnya gak terlalu terasa di sini, mungkin karena kita terus bergerak saat berjalan. Padahal tadi si abang-abang penjual kupluk bilang kalau suhunya bakalan dingin banget, ternyata gak juga. Ajaibnya lagi aku bisa sampai di sini seakan tidak terjadi apa-apa tadi. Padahal sebelumnya aku udah lemas banget. Mungkin inilah the power of spirit. Saking semangatnya buat melihat sunrise.

bukit-cinta
Rame banget

 

bukit-cinta bukit-cinta

            Gorengan di depan warung yang berjejer begitu menggoda di tengah cuaca yang dingin. Kita membeli gorengan sebagai bekal untuk naik ke atas Bukit Cinta. Sebelum naik ke Bukit Cinta sebaiknya shalat terlebih dahulu agar subuhnya tidak terlewat. Aku lihat ada tempat ibadah di antara jejeran warung yang bisa digunakan sebagai tempat shalat. Karena aku berhalangan jadi aku langsung naik menuju Bukit Cinta.

            Kita menaiki anak tangga yang cukup lebar. Puncak Bukit Cinta sudah penuh sesak dengan wisatawan yang memiliki tujuan yang sama yakni menyaksikan sunrise Bromo. Kita memilih berhenti di tangga yang cukup minim dari pengunjung.

bukit-cinta bukit-cinta

Perlahan matahari mulai menampakkan diri meski masih malu-malu. Mungkin masih enggan bangun karena tadi malem abis hujan. Langit masih gelap. Segaris warna orange berganti pink tapi masih tertutup bayangan awan. Saat matahari semakin tinggi terlihat di kejauhan sana sebuah gunung (bukan gunung Bromo) yang dikelilingi awan tebal, samar-samar tertutup kabut. Lukisan alam yang membuatku tak henti berdecak kagum. Teringat gambar favoritku waktu SD, pemandangan gunung dengan matahari yang masih separuh terbit. Kalau ada tugas menggambar bebas aku pasti menggambar seperti itu. Aku merasa beruntung dapat menyaksikan sunrise di Bukit Cinta Bromo meski kurang sempurna.

bukit-cinta

Langit semakin terang, Kaldera Gunung Bromo dan jajaran Gunung Batok, Gunung Kursi, dan Gunung Semeru di kejauhan semakin jelas terlihat. Jejeran gunung tersebut terlihat sangat dekat dari Bukit Cinta. Setelah puas melihat matahari terbit kita mengabadikan moment ini. foto-foto berlatar pemandangan Kaldera Gunung Bromo yang sangat cantik.

bukit-cinta bukit-cinta bukit-cinta bukit-cinta

Abis foto-foto saatnya kita turun. Aku lihat banyak ibu-ibu yang menggendong kursi dan gulungan tikar berjalan meuruni tangga. Pantesan aja banyak kursi plastik di sepanjang tangga yang kita lewati. Ternyata mereka menyewakan kursi dan tikar buat wisatawan supaya tidak capek berdiri saat menunggu terbitnya sang mentari. Mereka beranjak pulang ketika matahari sudah semakin tinggi.

bukit-cinta

Begitupun kita beranjak menuruni tangga untuk melanjutkan petualangan berikutnya. Di bagian bawah tangga ramai banget. Tidak cuma pengunjung lokal, wisatawan mancanegarapun mudah sekali kita temui di sini. Kebanyakan turis yang aku temui berwajah Chinese gitu. Penduduk lokal banyak yang menjual souvenir seperti gantungan kunci dan phigura. Banyak pula yang menjual rangkaian bunga edelweiss yang berwarna-warni.

Saat berjalan menuju tempat jeep diparkir baru kerasa kalau ternyata kita berjalan kaki jauh banget. Dan baru terlihat kalau kita berjalan di pinggir jurang. Masyaallah. Sambil berjalan aku menikmati udara pagi yang sangat segar. Di kiri tebing tinggi sementara di bagian kanan jurang yang cukup terjal. Aku juga sempat bertemu sekawanan monyet di jalan.

Oke, segini dulu cerita perjalanan aku melihat sunrise Bromo dari Bukit Cinta. Setelah ini kita akan melanjutkan perjalanan menuju Savana Widodaren dan Kawah Bromo. Sampai jumpa di cerita perjalanku selanjutnya. To be continued.

5 thoughts on “Sunrise yang Tak Sempurna di Bukit Cinta Bromo

Terima kasih sudah komen :)