Wisata Religi ke Bukit Pecaron Situbondo

bukit-pecaron

Minggu, 03 September 2016, aku diajakin saudara sebelah rumah nih ke Situbondo. Niatnya mau ngunjungin saudara yang ada di sana sekalian mau ziarah ke bukit Pecaron, tempat petilasan Syaikh Maulana Ishaq. Asyik, jalan-jalan. Kita berangkat Sabtu malam pukul 21.00 biar nyampek pagi ke sana. Secara perjalanan Pamekasan-Situbondo butuh waktu kurang lebih 8 jam. Aku memilih tidur selama perjalanan, yah meskipun gak nyenyak-nyenyak banget karena sering terjaga apalagi pas ada jalan rusak.

Sebelum subuh kita sudah sampai di Situbondo dan shalat subuh di masjid tak jauh dari tempat tujuan pertama kita, Bukit Pecaron. Angin subuh Situbondo meniupkan hawa dingin membuatku yang masih mengantuk dan kelelahan ingin tidur lagi. Tapi adzan subuh memaksaku untuk  segera beranjak. Setelah shalat dan membersihkan diri kita lanjutkan perjalanan. Pagi mulai terang. Kita melewati Pantai Pasir Putih tapi cuma ngelewatin aja gak mampir. Tak berapa lama Bukit Pecaron mulai terlihat, sebuah bukit yang tampak menjorok ke laut mirip dengan pura di Bali. Semburat matahari terbit berwarna merah muda menghias kaki langit membuat bukit Pecaron terlihat lebih indah.

Sampai di Bukit Pecaron yang terletak di di Desa Pasir Putih, Kecamatan Bungatan, Situbondo kita sarapan dulu dan meregangkan otot sejenak sebelum naik.  Dari sini gunung-gunung berbaris menjulang tampak sangat jelas. Pagi dengan Pemandangan yang indah seperti ini tidak setiap saat bisa ku temui mengingat tak ada gunung di Madura. Jadi exited banget lihat gunung dengan sangat jelas kayak gini. Selamat Pagi dari Situbondo.

bukit-pecaron

Oke, saatnya kita mendaki. Untuk sampai di atas kita harus melewati puluhan anak tangga yang tersusun tidak terlalu rapi. Harus lebih berhati-hati karena tidak semua tangga yang kita naiki ada pegangannya. Cukup melelahkan juga karena ada beberapa tanjakan yang cukup curam. Perjuangan banget nih, sampek harus mengatur nafas yang ngos-ngosan biar segera bisa ikut membaca tahlil dan yasin pas nyampek di atas. Ada ruangan yang terdapat sebuah makam di dalamnya. Di luar ruangan ini terdapat beberapa batu hitam yang dipercaya adalah petilasan Syaikh Maulana Ishaq ayahanda dari Sunan Giri, salah satu Sembilan wali.

bukit-pecaron

 

Karena hari masih sangat pagi belum banyak peziarah yang datang. Kita tidak langsung turun setelah berdoa. Berjalan ke belakang bangunan ini aku menemukan tempat bagus. Kombinasi batu-batu agak besar dan akar-akar pohon yang menyembul ke permukaan tanah. Dari sini kita juga bisa melihat lautan lepas jadi foto-foto dulu sebentar. Katanya ada gua di bukit ini tapi kita nyari gak ketemu.

bukit-pecaron

Setelah dari bukit Pecaron kita beranjak ke rumah saudara tidak jauh dari Pasar Panarukan. Kita belok kiri di Monumen 1000 Km Anyer Panarukan sekitar 5 menitan lah. Udara di sini sejuk membuat kita mengantuk karena semalem kan tidurnya di perjalanan jadi gak bisa nyenyak. Dan di sini kita semua tepar. Baru setelah sadar sepenuhnya kita mandi. Rasanya kembali segar. Seberapapun jauhnya jarak yang memisahkan ketika persaudaraan dipertemukan rasanya sangat menyenangkan. Kita mendapat sambutan yang sangat hangat. Merasa bahagia bisa bertemu. Hidangan sederhana yang mereka suguhkan terasa sangat berarti.

Oh ya meskipun ini tanah jawa tapi Bahasa yang digunakan sehari-hari murni Bahasa Madura. Logatnya sih kayak logat orang Sumenep. Jadi berasa tetap di Madura, hehe. Rata-rata setiap rumah di sini memelihara sapi. Sapinya besar-besar lagi. Sebelum pulang kita nyekar ke makam orang tua pendahulu kita. Abis itu kita pulang. Dengan berat kendaraan kita meninggalkan rumah saudara. Meninggalkan Situbondo.

bukit-pecaron

Aku menikmati pemandangan sepanjang perjalanan pulang ini. gunung-gunung yang berbaris tak rapi di sebelah selatan dan hamparan laut biru di sebelah utara. Ciptaan Tuhan yang sangat mengagumkan. Aku berusaha mengambil gambar tapi sulit sekali dapet yang pas karena lebih sering terhalang pepohonan. Ada yang tidak terhalang pohon tapi hasilnya gelap, ah… Lihat kontur gunung-gunung dengan sangat jelas gini jadi pengen naik gunung.

Aku masih menikmati sepanjang perjalanan ini. Sepanjang jalan Situpondo, Probolinggo, Pasuruan, hingga Surabaya aku merekamnya dalam sepenggal memory. Dan aku sangat bersyukur bisa menyaksikan sunset yang indah saat mobil yang kita kendarai melaju di tol menuju Surabaya.

sunset-on-the-spot

Terima kasih sudah komen :)